'Jalanan aspal sampai bergoyang' –Gempa 7,6 guncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Sumber gambar, Basarnas
Gempa bumi magnitudo 7,6 yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara, pukul 06.48 Wita (atau 05.48 WIB), Kamis (02/04), guncangannya dirasakan warga di Bitung dan Manado (Sulut) hingga Ternate (Maluku Utara).
Sejauh ini gempa menyebabkan satu orang meninggal dunia dan seorang lainnya terluka di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan, kata Tim SAR.
"Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget," kata Isvara Safitri, warga Kelurahan Teling Atas, Manado, kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (02/04).
"Kepala saya sampai pusing," tambahnya. Berbagai perabot di kamarnya, termasuk lemari, sempat bergoyang beberapa detik.
Dia juga mendengar apa yang disebutnya seperti "bunyi gemuruh". Namun dia tidak dapat memastikan sumber suaranya.
Safitri memilih keluar dari rumah sesaat setelah gempa.
Di sekitar rumahnya, sudah banyak warga yang sebagian "terlihat panik". Tidak ada bangunan yang rusak di sekitar rumahnya.
Lokasi tempat tinggal Safitri di tengah Kota Manado, sekitar satu kilometer dari bangunan stadion yang runtuh akibat gempa.
"Kayaknya ini gempa paling kencang selama saya tinggal enam tahun di Manado," ujar Safitri yang berprofesi sebagai wartawan ini.
Gempa yang dirasakan Safitri itu memiliki kekuatan magnitudo 7,6.
Pusat gempanya di wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara pada Kamis, (02/04), pukul 05.48 WIB.
Berdasarkan data pemutakhiran Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), pusat gempa berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer.
Seperti apa guncangan yang dirasakan warga Bitung?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sejumlah warga Bitung, Sulawesi Utara, panik dan berhamburan keluar saat guncangan gempa kuat terasa pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 WITA.
Salah satu warga, Yayuk Oktiani (42), mengatakan ia tengah berbelanja di pasar usai mengantar anaknya ke sekolah ketika tiba-tiba terjadi guncangan yang semakin lama semakin besar.
"Orang-orang di pasar langsung lari keluar, beberapa toko mati lampu. Kami pegangan tangan, banyak yang ketakutan," ujarnya kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon.
Yayuk mengaku langsung teringat anaknya yang bersekolah di MIN 1 Bitung, yang letak sekolahnya berada sangat dekat dengan laut.
Tidak lama setelah gempa pertama, guru-guru di grup sekolah meminta para orang tua untuk menjemput kembali anak-anak mereka, kata Yayuk.
Saat tiba di sekolah, dia mendapati para siswa sudah dievakuasi ke area luar gedung dan dijaga para guru.
"Karena lokasinya di pesisir dan BMKG mengeluarkan status siaga, semua orang jadi khawatir," katanya.
Warga di sekitar pesisir, kata Yayuk, mulai mengungsi ke dataran lebih tinggi setelah gempa besar terjadi.
Sulawesi Utara merupakan daerah rawan bencana. Yayuk menambahkan, wilayah tempat tinggalnya dilengkapi dengan papan-papan petunjuk evakuasi bencana, baik untuk ancaman dari laut maupun dari arah perbukitan.
"Semoga semuanya aman," ujarnya.
Bagaimana kondisi di Ternate, Maluku Utara?
Di Kota Ternate, Maluku Utara, dilaporkan ada sejumlah bangunan yang rusak akibat gempa 7,6 magnitudo, kata Basarnas Ternate. Namun sejauh ini belum dilaporkan ada korban meninggal dunia.
"Ada beberapa rumah dan tempat ibadah yang mengalami kerusakan," kata Icshan Humas Basarnas Ternate, kepada BBC News Indonesia, Kamis (02/04).
Sebagian bangunan rusak berat, namun sebagian lainnya ringan.
Laporan-laporan yang diterima Basarnas Ternate menyebutkan, wilayah yang terdampak di Pulau Batan 2, Kota Ternate tengah dan selatan.
Bangunan rusak akibat gempa juga dilaporkan terjadi di Olemahera Barat dan Olemahera Tengah
Gempa susulan dan gelombang tsunami kecil
Menurut BNPB, guncangan dirasakan sangat kuat selama 10 hingga 20 detik di Kota Bitung dan sekitarnya.
Warga Kota Ternate, Maluku Utara, juga dilaporkan merasakan guncangannya sehingga masyarakat dilaporkan sempat "panik dan berhamburan keluar rumah," ungkap BNPB.
Hingga pukul 07.00 WIB, tercatat dua gempa susulan masing-masing berkekuatan magnitudo 5,5 pada pukul 06.07 WIB dan magnitudo 5,2 pada pukul 06.12 WIB.
Kedua gempa susulan tersebut berpusat di laut dan tidak berpotensi tsunami, namun tetap dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak.
Dampak awal yang berhasil dihimpun menunjukkan adanya kerusakan ringan hingga sedang di wilayah Kota Ternate, lapor BNPB.
Sebanyak satu unit tempat ibadah (gereja) di Kecamatan Pulau Batang Dua dilaporkan terdampak, serta dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan mengalami kerusakan.
Sementara itu, di Kota Bitung, pendataan masih terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Berdasarkan pemantauan sistem peringatan dini, telah terdeteksi gelombang tsunami dengan ketinggian relatif kecil, yakni sekitar 0,3 meter di wilayah Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB dan 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB.
"Meskipun relatif kecil, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan karena potensi gelombang susulan masih dapat terjadi," kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Kamis (02/04).
BNPB kemudian mengimbau warga yang tinggal di pesisir agar tetap menjauhi pantai dan tidak kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan resmi aman dari pemerintah.
Muhari juga meminta masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan dari aparat setempat, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pemantauan dan pembaruan informasi akan terus dilakukan sesuai perkembangan situasi di lapangan.
Gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara pada Kamis, (2/4) pukul 05.48 WIB.
Berdasarkan data pemutakhiran, pusat gempa berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer.
Berita ini akan diperbarui secara berkala.






























