'Rasanya seperti jebakan yang tak bisa dihindari' – Pengakuan para perempuan yang menyesal punya anak

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Kirstie Brewer
- Peranan, BBC News
- Waktu membaca: 7 menit
Carmen mencintai putranya Teo yang berusia 10 tahun. Namun, jika bisa memutar waktu, ia mengaku tidak akan pernah menjadi seorang ibu.
"Menjadi ibu telah merenggut kesehatan, waktu, uang, tenaga, dan tubuh saya," ujarnya. "Harganya terlalu mahal, dan harga yang harus dibayar berlaku selamanya."
Guru berusia 40-an tahun itu merupakan bagian dari komunitas tersembunyi perempuan yang menyesali keputusan menjadi ibu.
Penyesalan semacam ini jarang diungkapkan secara terbuka. Para perempuan yang berbagi cerita hanya bersedia bicara dengan syarat anonim, karena takut dihakimi dan karena keluarga mereka tidak tahu.
Carmen pernah menuliskan penyesalannya di sebuah forum diskusi orang tua beberapa tahun lalu. Ia mengatakan, sebagian orang menunjukkan empati terhadapnya, tapi ada pula yang bereaksi seolah dirinya "mengerikan" dan "monster."
Tekanan ekstrem dan pengorbanan besar yang kerap menyertai keibuan menjadi sorotan dalam film If I Had Legs I'd Kick You, yang masuk nominasi Oscar.
Aktris Rose Byrne menampilkan potret mendalam seorang ibu yang kelelahan, merasa sendirian dalam perjuangan memenuhi kebutuhan anaknya sekaligus menopang kehidupan keluarga.

Sumber gambar, Logan White/A24
Carmen merasa sangat terhubung dengan tema film tersebut.
"Menjadi ibu adalah pekerjaan tanpa akhir yang tetap harus dilakukan meski tidak ingin, karena ada seorang anak kecil yang bergantung pada kita… rasanya seperti jebakan yang tak bisa dihindari," ujarnya.
Ia berbicara terus terang tentang betapa "menghancurkan" pengalaman menjadi ibu. Namun, nada suaranya berubah cerah ketika ditanya soal Teo.
"Teo tidak ada hubungannya dengan penyesalan saya, dia anak yang fantastis, menggemaskan, dan saya sangat mencintainya," kata Carmen.
"Saya rela memberikan hidup saya untuknya tanpa ragu. Dia baik hati, mudah bergaul, dan seorang murid yang cemerlang."
Psikoterapis Anna Mathur menjelaskan, "sering kali ketika perempuan merasa cukup aman untuk membicarakan penyesalan menjadi ibu, yang muncul bukanlah kurangnya cinta, melainkan rasa terisolasi, kelelahan, atau kehilangan identitas."

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Bagi Carmen, yang mengaku perfeksionis, beban terberat adalah tanggung jawab membesarkan "manusia yang baik, pribadi yang baik dan bahagia."
Ia berjanji Teo tidak akan pernah merasakan masa kecil seperti dirinya, yang tumbuh dalam keluarga miskin dan disfungsional "di mana kekerasan menjadi bahasa utama" dan ia tak pernah merasa dicintai.
Awalnya, menjadi ibu adalah "kebahagiaan," katanya. Teo tidur nyenyak dan ia menikmati hari-hari merawat bayinya selama cuti melahirkan. Namun keadaan berubah ketika Teo mulai menunjukkan keterlambatan perkembangan serius. "Setiap momen sederhana berubah menjadi pengamatan dan kekhawatiran," ungkap Carmen.
"Saya merasa sangat bersalah," tambahnya, "dan saya khawatir hidupnya akan menjadi sebuah perjuangan."
Akhirnya, Teo tidak didiagnosis dengan kondisi yang ditakutkan Carmen dan kini berkembang dengan baik. Namun, ia mengatakan stres dan kekhawatiran yang terus-menerus membuatnya mengidap penyakit autoimun.

Sumber gambar, Getty Images
Mengaitkan penyesalan menjadi ibu dengan sikap tidak mencintai atau mengasuh anak secara buruk adalah asumsi yang sembrono, menurut sosiolog Orna Donath, penulis Regretting Motherhood: A Study.
Sosiolog Orna Donath mewawancarai 23 ibu, masing-masing menekankan perbedaan antara perasaan menyesali menjadi ibu dan perasaan terhadap anak mereka. Beberapa merasa "ditipu" oleh konsep keibuan karena kenyataan tidak sesuai dengan gambaran ideal yang dijual masyarakat.
"Saya menyesal memiliki anak dan menjadi ibu, tetapi saya mencintai anak-anak yang saya miliki… saya tidak ingin mereka tidak ada, saya hanya tidak ingin menjadi seorang ibu," ungkap salah satu peserta survei, ibu dari dua remaja.
Data yang terbatas menunjukkan perasaan ini bukan hal langka. Sebuah studi di Polandia tahun 2023 memperkirakan 5%–14% orang tua menyesali keputusan memiliki anak dan akan memilih hidup tanpa anak jika bisa mengulang waktu.
Meski jarang diungkapkan secara terbuka, komunitas daring memberi ruang bagi orang tua untuk berbagi.
Baca juga:
Carmen menyadari dirinya tidak sendirian setelah bergabung dengan grup Facebook I Regret Having Children [Saya Menyesal Punya Anak], yang memiliki 96.000 anggota dari seluruh dunia.
"Menjadi ibu penuh momen manis, tetapi itu tidak sebanding dengan kebebasan yang bisa saya miliki," kata seorang ibu di Australia yang memiliki anak berusia lima tahun.
"Saya pandai memakai 'topeng' di depan putri saya, tetapi begitu ia tidur dan saya punya sedikit waktu bersama suami, topeng itu saya lepaskan dan saya lebih memilih sendiri."
Memiliki anak membuat keuangan ketat, dan semua tujuan serta ambisi—berkeliling dunia, membangun usaha, membentuk portofolio investasi—terpaksa ditunda.
"Saya kehilangan semua motivasi, kecuali berusaha membesarkan manusia yang layak di dunia yang kacau ini," ujarnya.
Seorang ibu lain di UK mengatakan merasa "direndahkan" ketika orang berasumsi ibu yang tidak bahagia pasti mengalami depresi pasca-melahirkan.
"Orang lebih nyaman melabelinya begitu—padahal anak-anak saya sudah dewasa dan saya masih berduka atas kehidupan yang tidak pernah saya jalani. Kini saya khawatir harus mengurus cucu di masa depan—tugas merawat tak pernah berakhir."

Sumber gambar, Getty Images
Grup Facebook I Regret Having Children dibentuk pada 2007. Konten berasal langsung dari orang tua—sebagian besar perempuan—yang mengirimkan kisah mereka secara pribadi untuk kemudian dipublikasikan secara anonim.
Moderator grup, Gianina (44), seorang ilmuwan laboratorium asal AS, menegaskan bahwa "tujuannya bukan untuk mempermalukan orang tua atau mempromosikan gaya hidup tertentu."
"Lebih kepada mendokumentasikan fenomena budaya yang jarang mendapat ruang dalam percakapan arus utama," ujarnya.
"Komunitas ini besar dan aktif karena banyak orang diam-diam bergulat dengan perasaan yang selama ini dianggap tidak pantas dimiliki."
Gianina sendiri sempat ragu untuk memiliki anak, dan membaca kisah-kisah di forum itu memengaruhi keputusannya untuk tidak memiliki anak.
Baca juga:
Menurut konselor dan psikoterapis asal Irlandia, Margaret O'Connor, generasi muda kini memandang keputusan memiliki anak dengan cara yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
"Kesadaran bahwa ini adalah sebuah pilihan semakin nyata," katanya. "Bukan sesuatu yang otomatis harus dilakukan."
Ia menambahkan, banyak klien berusia 20–30-an tahun yang datang kepadanya, sudah yakin ingin punya anak, tetapi tetap khawatir dan membutuhkan dukungan untuk menjalaninya.
Namun, O'Connor menekankan sulit menentukan tanda-tanda pasti seorang perempuan akan menyesali keputusan menjadi ibu, karena pengalaman setiap orang unik.
"Anda harus benar-benar yakin dengan keputusan besar ini dan melakukannya atas alasan pribadi, bukan karena tekanan dari pasangan atau orang tua," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu percaya pada gagasan "membesarkan anak secara kolektif" atau saudara-saudara yang akan ikut membantu.
"Pesan yang sering kita dengar adalah, 'Kami semua akan ada untuk menjaga bayi,' tapi kenyataannya sering tidak demikian—itu bayi Anda dan Anda yang bertanggung jawab."
O'Connor menilai wajar bila orang tua mengalami penyesalan, mengingat betapa besar dan menuntut peran tersebut. Ia menyarankan menemui terapis untuk menggali akar penyesalan dalam ruang aman tanpa penghakiman.
Psikoterapis Anna Mathur menambahkan, penyesalan menjadi ibu tidak selalu bisa hilang sepenuhnya.
"Bagi sebagian perempuan, perasaan itu bisa melunak atau berubah signifikan dengan dukungan, istirahat, waktu, dan perubahan keadaan. Namun bagi yang lain, sebagian perasaan itu mungkin tetap ada, dan penting memberi ruang bagi kejujuran itu tanpa rasa malu."

Sumber gambar, Getty Images
Studi Orna Donath juga menemukan bahwa bagi sebagian perempuan, penyesalan menjadi ibu adalah perasaan yang tidak pernah hilang.
"Semua perempuan yang saya ajak bicara berusaha melakukan yang terbaik di samping penyesalan mereka," ujarnya.
"Beberapa tahun lalu, saya menerima surat dari seorang perempuan yang menyesal menjadi ibu. Ia menulis bahwa yang membantunya adalah tidak berharap perasaan itu akan hilang suatu hari… ia lebih memilih menerima daripada melawan dan hancur setiap kali menyadari bahwa perasaan itu tidak akan pergi."
Dalam kasus Carmen, ia merasa penyesalan itu permanen, "karena pengorbanannya berlaku selamanya." Namun, ia telah menjalani terapi selama beberapa tahun dan mengatakan hal itu membantunya menerima diri sendiri serta perasaannya terhadap menjadi seorang ibu.
"Saya tidak lagi hidup dengan rasa pahit," katanya.
Kini Carmen meluangkan waktu untuk pergi ke pusat kebugaran, bertemu teman, dan berusaha memberi izin pada dirinya untuk tidak selalu mengejar kesempurnaan.
"Saya akhirnya bisa berkata, 'Tidak, maaf, saya lelah dan akan tidur lebih awal. Makan malam terserah, ayah ada di sini.'"
Ia belajar bahwa ketika melakukan itu, dunia tidak runtuh.
"Teo melihat bahwa saya manusia, bahwa saya tidak sempurna, dan dia baik-baik saja dengan itu."
Ketika ditanya momen paling membahagiakan bersama putranya, Carmen menjawab setiap malam sebelum Teo tidur, mereka berbaring di ranjang yang sama dan berbagi cerita tentang hari yang telah berlalu. Teo meringkuk hangat di balik selimut dan mendekap ibunya.
"Itulah saat saya benar-benar terhubung dengan Teo dan melihat orang yang paling saya cintai di dunia," katanya.
"Saya tidak lagi merasa seperti monster."






























