Paskah: Apa yang dimakan dan diminum Yesus saat Perjamuan Terakhir?

Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir dengan murid-muridnya.

Sumber gambar, Domínio Público

Keterangan gambar, Lukisan karya Leonardo Da Vinci yang menggambarkan Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir dengan murid-muridnya.
    • Penulis, Edison Veiga
    • Peranan, BBC News Brasil
  • Waktu membaca: 7 menit

Apa yang sebenarnya dimakan dan diminum Yesus bersama murid-muridnya dalam Perjamuan Terakhir?

Kitab suci umat Kristen, Alkitab, mencatat bahwa Yesus sudah mengetahui dirinya akan dibunuh saat merayakan Paskah bersama para muridnya.

Hal itu tertulis dalam Injil Matius 26:2. Yesus berkata, "Kamu tahu bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, dan Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan."

Kemudian Pasal 17 dari ayat itu berbunyi, "Pada hari pertama Hari Raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid kepada Yesus dan berkata: 'Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"

"Jawab Yesus, 'Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama murid-murid-Ku."

"Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama kedua belas murid itu.

Lalu Yesus mengambil roti dan anggur yang kemudian diserahkan ke murid-muridnya, sebagai simbol tubuh dari darah Yesus.

Yesus juga meminta murid-muridnya untuk melakukan perjamuan kudus (ekaristi) itu "sebagai peringatan akan Aku."

Paus Yohanes Paulus II mengangkat Ekaristi selama misa di Polandia.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Paus Yohanes Paulus II mengangkat Ekaristi selama misa di Polandia.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Alkitab menyebutkan dua hidangan, yaitu roti tidak beragi dan minuman anggur.

Roti tak beragi itu adalah jenis roti panggang tanpa ragi yang terbuat dari tepung dan air.

Pada masa itu, umum bagi masyarakat untuk mencampur gandum giling dengan oat, barley, gandum hitam (rye), dan biji-bijian lain yang tersedia.

Dalam tradisi Yahudi, Paskah adalah hari peringatan atas pembebasan bangsa Yahudi dari Mesir Kuno. Saat itu, roti tanpa ragi menjadi hidangan wajib dan mudah disajikan selama pelarian mereka.

Baca juga:

Mengingat Yesus adalah seorang Yahudi yang miskin, begitu pula para muridnya, maka dapat diasumsikan bahwa bahan-bahan sederhana itulah yang tersedia bagi mereka.

"Di meja Paskah saat itu, terdapat roti tak beragi dan minuman anggur. Bukan untuk diminum hingga mabuk, karena bisa dibayangkan, itu bukanlah jamuan yang mewah yang melimpah," ujar sejarawan André Leonardo Chevitarese ke BBC News Brasil.

André adalah penulis buku, berjudul Yesus dari Nazaret: Kisah Lain. Dia merupakan profesor di Program Pascasarjana Sejarah Komparatif Universitas Federal Rio de Janeiro.

André juga memandang bahwa meja perjamuan kudus itu tidak menyajikan hidangan mewah dan melimpah. Melainkan hanya beberapa potong roti, anggur berkualitas rendah dan sedikit buah-buahan.

"Bagaimanapun, anggur tetap ada. Namun, bukan anggur impor, melainkan anggur produksi lokal dengan kualitas rendah."

Buah-buahan yang kemungkinan besar tersaji di meja Yesus saat itu adalah delima, kurma, dan anggur.

Sebuah reinterpretasi roti dari zaman Kristus, yang dibuat oleh tukang roti Johannes Roos.

Sumber gambar, Johannes Roos

Keterangan gambar, Sebuah reinterpretasi roti dari zaman Kristus, yang dibuat oleh tukang roti Johannes Roos.

Anggur kuno

Meskipun ada konsensus bahwa anggur telah ditemukan sekitar 6.000 tahun yang lalu, hanya sedikit orang yang berani mengasumsikan seperti apa rasa anggur yang diminum oleh Yesus dan para pengikut.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada masa itu, minuman anggur memiliki kualitas rendah tanpa standar yang konsisten. Anggur sering kali dicampur dengan tanaman herbal aromatik, madu, dan buah-buahan.

Hal ini dilakukan karena beberapa alasan:

  • Memberikan sensasi segar;
  • Menyamarkan rasa yang kurang sedap;
  • Mengurangi rasa asam dan rasa teroksidasi akibat proses penyimpanan yang tidak memadai.

Dalam bukunya yang berjudul Ancient Wine: The Search for the Origins of Viniculture, arkeolog Patrick Edward McGovern dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk mencampurkan kuncup tanaman kaper, kunyit, lada, dan berbagai jenis rempah-rempah ke dalam minuman anggur.

Dan pada saat akan diminum, minuman itu juga dicampur dengan air.

Pada masa itu belum ada botol maupun tong yang memadai untuk mengawetkan anggur. Proses pencampuran itu menjadi solusi untuk menyimpan buah anggur hasil panen agar bisa dimanfaatkan sepanjang tahun.

Hal itu menunjukkan bahwa anggur kering—dan bukan anggur segar—lah yang akhirnya digunakan, serupa dengan minuman yang dibuat dari kismis saat ini yang menghasilkan alkohol lebih kuat serta rasa antara manis dan pahit.

Kemudian, iklim di wilayah tersebut yang panas dan kering menjamin produksi anggur dengan kadar gula yang lebih banyak, yang berarti minuman anggur itu memiliki kandungan alkohol yang lebih tinggi.

Pada zaman Yesus, minum anggur juga solusi dari masalah sanitasi mendasar. Saat itu tidak ada sistem pengolahan air minum. Artinya, minuman beralkohol lebih baik—bahkan bagi anak-anak—untuk menghindari kontaminasi bakteri.

Seiring dengan ekspansi Kekaisaran Romawi, penyebaran kebun anggur pun masif terjadi. Tujuannya adalah untuk menjamin pasokan bagi para prajurit yang bertugas di semua wilayah jajahan.

Tidak ada konsensus di antara para peneliti mengenai jenis anggur apa yang ditanam di wilayah Yerusalem—diyakini bahwa bibit dibawa dari satu titik ke titik lain dan akhirnya jenis yang paling mampu beradaptasi dengan iklim dan tanah setempatlah yang bertahan.

Kemungkinan besar anggur di wilayah tersebut adalah varietas leluhur dari apa yang sekarang disebut sebagai Syrah, varietas anggur merah berkulit gelap.

Johannes Roos, tukang roti asal Jerman, percaya bahwa Yesus mengonsumsi roti beragi, dan bukan roti tanpa ragi yang disebutkan dalam Alkitab.

Sumber gambar, Johannes Roos

Keterangan gambar, Johannes Roos, tukang roti asal Jerman, percaya bahwa Yesus mengonsumsi roti beragi, dan bukan roti tanpa ragi yang disebutkan dalam Alkitab.

Roti sehari-hari

Dalam bukunya berjudul Six Thousand Years of Bread: Its Holy and Unholy History, peneliti Heinrich Eduard Jacob mengupas secara mendalam bagaimana Yesus, dan kemudian Kekristenan, menggunakan makna roti dalam ajaran-ajarannya.

Mulai dari doa Bapa Kami hingga kisah-kisah mukjizat, termasuk perumpamaan-perumpamaan, dan tentu saja, Perjamuan Terakhir.

Johannes Roos, pembuat roti asal Jerman yang juga merupakan pelatih tim nasional pembuatan roti Brasil, meyakini bahwa dalam kehidupan sehari-hari Yesus mengonsumsi roti beragi—dan bukan hanya roti tidak beragi yang disebutkan dalam Alkitab.

"Roti yang dimakan pada periode itu adalah roti gandum utuh [integral], dengan campuran tepung dari berbagai jenis , seperti gandum, sorgum, spelt... Difermentasi secara alami dengan proses yang lambat," ujar Roos dalam wawancara dengan BBC News Brasil.

"Menurut saya rotinya lebih gelap, dengan tekstur gilingan yang lebih kasar."

Roos lalu melangkah lebih jauh dengan menciptakan sebuah resep roti kontemporer, yang merupakan interpretasi ulang modern dari roti yang dikonsumsi di Yerusalem 2.000 tahun yang lalu.

"Ini adalah resep roti yang akan saya buat untuk Yesus pada Perjamuan Terakhir," komentarnya.

Ross menggunakan 400 gram tepung terigu, 200 gram tepung rye, 100 gram tepung spelt, 100 gram tepung sorgum, 200 gram tepung gandum utuh, 200 gram ragi alami, 22 gram garam dari Laut Mati, 30 gram biji wijen, 30 gram biji bunga matahari, 30 gram biji rami, 30 gram biji labu, dan 550 gram air.

Untuk membuatnya, kata Ross, "semua bahan diulen secara perlahan, kecuali biji-bijian, hingga adonan benar-benar halus."

"Kemudian adonan didiamkan selama dua jam, dan diuleni lagi selama 15 menit, dan didiamkan kembali selama dua jam. Adonan lalu dibagi dengan berat masing-masing 1,2 kilogram per roti, dibentuk, lalu dibiarkan berfermentasi selama 16 jam," jelasnya.

"Roti lalu dipanggang dalam tungku dengan kayu yang harum selama 50 menit."

"Dulu, tungku akan dibersihkan menggunakan rosemary liar, yaitu tanaman yang meninggalkan aroma luar biasa saat digunakan untuk menyapu tungku," pungkasnya.

Sakramen

Di kalangan teolog dan peneliti kekristenan, tidak ada keraguan bahwa roti dan anggur, yang sarat dengan makna religius, adalah bagian utama dalam Perjamuan Terakhir.

"Kita sedang membicarakan perayaan Paskah yang tengah berlangsung. Ini adalah perayaan khas orang Yahudi, sebuah pesta yang ditetapkan sejak zaman kuno untuk menandai keluarnya mereka dengan tergesa-gesa dari Mesir.

"Ketika dalam pelarian itu mereka memakan rempah pahit, membagi-bagikan roti, dan memakan domba yang dikorbankan," jelas sejarawan, filsuf, dan teolog Gerson Leite de Moraes, profesor di Universitas Presbiteriana Mackenzie, kepada BBC News Brasil.

"Perayaan ini memperingati momen pembebasan. Roti tidak beragi ini mengenang kepergian dan pelarian itu, karena itu adalah roti orang miskin, roti bagi orang yang terburu-buru dan memiliki sumber daya terbatas," tambah Moraes.

"Anggur adalah minuman umum yang menjadi bagian dari makanan dan adat istiadat, serta kebiasaan setiap orang."

Moraes menyatakan bahwa, meskipun beberapa kaum moralis religius yang tidak meminum alkohol merasa terganggu, adalah fakta sejarah bahwa Yesus sering meminum anggur.

"Hal ini harus dipahami tanpa memunculkan skandal apapun. Pada titik tertentu, Yesus akhirnya dituduh sebagai pemabuk, merangkul pelacur, berpartisipasi dalam pesta-pesta, berjalan bersama orang-orang sederhana dan miskin…"

"Yesus adalah seorang yang periang, dan momen terakhinya adalah saat di mana ia berada sebagai orang Yahudi yang umumnya merayakan Paskah," papar sejarawan untuk memberi konteks saat itu.

Hal yang penting, menurut Moraes, adalah bagaimana Yesus akhirnya memberi makna baru pada perjamuan itu—dan dengan demikian, mendirikan kekristenan.

"Ia mengubah proses [Paskah]. Ia memanfaatkan seluruh situasi itu untuk memaknai ulang perjamuan, mengubah pertemuan sekelompok orang Yahudi tersebut dengan menetapkan sakramen baru. Dan tepat itulah yang mendasari gereja: Ekaristi, Perjamuan Kudus," ujarnya.

"Dari sebuah pesta Paskah Yahudi, Ia menetapkan sebuah sakramen baru. Ia memberi makna baru pada roti dan anggur," tutup Moraes.