Iran sebut Selat Hormuz terbuka untuk kapal-kapal komersial, tapi lalu lintas maritim masih minim
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
- Penulis, Anthony Zurcher
- Peranan, North America correspondent
- Waktu membaca: 7 menit
Meski pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz telah terbuka bagi kapal-kapal komersial, sejumlah perusahaan pelayaran masih memverifikasi kebenaran pernyataan tersebut. Situs pelacakan maritim menunjukkan lalu lintas kapal di area itu sangat minim.
Dalam keterangannya yang diumumkan di X, pada Jumat (17/04), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Selat Hormuz "sepenuhnya terbuka" selama "sisa masa gencatan senjata".
Araghchi menulis:
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran."
Presiden AS Donald Trump kemudian mengunggah pernyataan di Truth Social:
"IRAN BARU SAJA MENGUMUMKAN BAHWA SELAT IRAN SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK LALU LINTAS PENUH. TERIMA KASIH!"
Dalam unggahan berikutnya, Trump menulis:
"NAMUN BLOKADE ANGKATAN LAUT AKAN TETAP DIBERLAKUKAN SEPENUHNYA DAN EFEKTIF TERHADAP IRAN SAJA, SAMPAI TRANSAKSI KAMI DENGAN IRAN SELESAI 100%."
"PROSES INI SEHARUSNYA BERJALAN SANGAT CEPAT KARENA SEBAGIAN BESAR POIN SUDAH DINEGOSIASIKAN. TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN ANDA TERHADAP MASALAH INI! PRESIDEN DONALD J. TRUMP."
Stasiun televisi pemerintah Iran mengutip seorang "pejabat militer senior" yang mengatakan bahwa pelayaran kapal-kapal komersial akan melalui "rute yang telah ditetapkan" dan bahwa pelintasan kapal militer melalui selat itu tetap "dilarang".
Pernyataan ini kemungkinan merujuk pada sebuah peta dan dua rute yang ditetapkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Peta tersebut disebarluaskan oleh media Iran pada pekan lalu.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Meski demikian, sejumlah perusahaan pelayaran mengaku masih memverifikasi apakah kapal-kapal komersial dapat melintasi selat tersebut secara aman.
Sejauh ini, situs pelacakan maritim menunjukkan lalu lintas kapal di area itu sangat minim.
"Saya memerlukan klarifikasi lebih lanjut bahwa tidak akan ada risiko bagi kapal-kapal untuk bernavigasi dan bahwa semuanya akan sesuai dengan hukum internasional," kata Arsenio Dominguez, kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO), kepada BBC World Business Report.
IMO mendapat informasi beberapa kapal mulai berlayar melintasi Selat Hormuz, namun masih perlu memverifikasinya karena "beberapa kapal mematikan sistem identifikasi mereka agar tidak menjadi sasaran," katanya.
Cormac McGarry, direktur keamanan maritim di firma konsultan Control Risks, mengatakan bahwa ia "tidak lebih optimistis dibandingkan kemarin" mengenai dibukanya kembali selat tersebut, meskipun ada pengumuman dari Menlu Iran.
Cormac mengatakan kepada program BBC 5 Live Drive bahwa pernyataan tersebut "pada dasarnya tidak mengubah apa pun" karena ancaman implisit berupa ranjau masih ada.
"Saat ini, berbagai skenario terlihat cukup suram bagi pelayaran dalam beberapa pekan ke depan," tambah McGarry.
Pada Senin (13/04), militer Amerika Serikat mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran guna membuka Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa blokade tersebut dilaksanakan atas perintah Presiden Donald Trump. Operasi ini bertujuan mencegah kapal-kapal berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman—di sebelah timur Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran telah memperingatkan bahwa tidak ada pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman apabila keamanan Iran terancam.
Berdasarkan pemberitahuan yang dikeluarkan CENTCOM kepada para pelaut dan dilaporkan oleh kantor berita Reuters, kapal yang masuk atau meninggalkan wilayah yang diblokade tanpa izin akan dicegat, dialihkan, hingga ditahan.
Meski demikian, kapal pengangkut makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas, dengan catatan harus melalui proses pemeriksaan.
Citra satelit memperlihatkan, kapal induk USS Abraham Lincoln telah bersiaga di bagian timur Teluk Oman, sekitar 200km sebelah selatan perairan Iran, sejak Sabtu (11/04).
Selain menempatkan kapal induk, militer AS mengerahkan dua kapal perusak yang mengangkut rudal kendali.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah para perunding dari kedua pihak gagal mencapai kesepakatan di Islamabad untuk mengakhiri perang.
"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," tulis Trump di Truth Social.
Dia juga menyatakan bahwa AS akan terus membersihkan ranjau di Selat Hormuz guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu.
Militer AS, tambahnya, berada dalam posisi "siap tempur" dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada "waktu yang tepat".
Apa reaksi China atas langkah AS?
Pemerintah China menyebut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai tindakan "tidak bertanggung jawab dan berbahaya".
Kementerian Luar Negeri Beijing menilai langkah tersebut akan "melemahkan kesepakatan gencatan senjata yang sudah rapuh" sekaligus semakin mengancam keselamatan kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sejauh ini, kapal-kapal China termasuk di antara sedikit yang berhasil melewati selat tersebut.
Belum jelas apakah China harus membayar biaya tertentu kepada Iran untuk bisa melintas.
Blokade AS berpotensi memutus pasokan bagi China dan menimbulkan dampak luas terhadap perekonomiannya.
"China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata menyeluruh dan mengakhiri perang, kita dapat secara fundamental menciptakan kondisi untuk meredakan situasi di selat," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Dia menambahkan, "China mendesak semua pihak untuk mematuhi pengaturan gencatan senjata, berfokus pada arah umum dialog dan perundingan damai, mengambil langkah nyata untuk mendorong peredaan ketegangan regional, serta memulihkan lalu lintas normal di selat sesegera mungkin."
Apa reaksi Iran?
Pernyataan terbaru datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengatakan bahwa AS dan Iran sebenarnya "tinggal selangkah lagi" mencapai kesepakatan dalam perundingan damai di Pakistan.
Namun, menurutnya, Teheran kemudian justru dihadapkan pada sikap "maksimalis, perubahan tuntutan yang terus-menerus, serta ancaman blokade".
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang memimpin perundingan di Pakistan, menyindir keputusan AS tersebut.
Dalam unggahan di platform X, dia menulis:
"Nikmati angka harga di pompa saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade' itu, tak lama lagi kalian akan bernostalgia dengan harga bensin 4–5 dolar AS."
Dalam pernyataan sebelumnya yang dimuat media-media Iran, Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran tidak akan "menyerah di bawah ancaman".
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump sebelumnya untuk memblokade "setiap dan semua kapal" yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz, angkatan laut Iran menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati jalur perairan tersebut akan ditangani secara "keras".
Apa yang dikatakan Trump tentang blokade pelabuhan Iran?
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (12/04), Trump mengatakan bahwa AS akan mulai "MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz".
"Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kami untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar pungutan kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas," kata Trump.
Ia menambahkan bahwa AS juga akan mulai menghancurkan ranjau yang menurutnya telah diletakkan Iran di selat tersebut.
"Setiap orang Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal damai, akan DILEDAKKAN KE NERAKA!" lanjutnya.
Baca juga:
Trump mengatakan bahwa "pada suatu titik" kesepakatan tentang jalur lintas bebas akan tercapai, tetapi "Iran tidak mengizinkan hal itu terjadi hanya dengan mengatakan, 'Mungkin ada ranjau di suatu tempat di luar sana,' yang tidak diketahui siapa pun selain mereka".
Ia menambahkan dalam unggahan lain bahwa "Iran berjanji membuka Selat Hormuz, dan mereka dengan sadar gagal melakukannya".
"Seperti yang mereka janjikan, mereka sebaiknya mulai proses MEMBUKA JALAN AIR INTERNASIONAL INI DAN CEPAT!" katanya.
Sumber gambar, Reuters
Dalam sebuah unggahan di X, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pasukannya akan mulai menerapkan blokade pada Senin (13/04) pukul 10.00 EDT (21.00 WIB).
"Blokade akan ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman," katanya.
Centcom menambahkan bahwa pasukan AS tidak akan menghambat kebebasan kapal yang transit ke dan dari pelabuhan non-Iran, dan bahwa informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum blokade dimulai.
Trump mengatakan bahwa negara-negara lain akan terlibat dalam pemblokadean selat tersebut, tetapi tidak menyebutkan negara mana.
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia