'Saya tak ingat apapun' – Penyintas kasus Epstein mengaku dibius dan diperkosa
Sumber gambar, Martin BUREAU / AFP via Getty Images
- Penulis, Victoria Derbyshire
- Peranan, BBC Newsnight
- Waktu membaca: 5 menit
Peringatan! Berita ini mengandung deskripsi kekerasan seksual yang dapat menganggu kenyamanan Anda.
Seorang perempuan mengaku dibius dan diperkosa oleh terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Dia bercerita secara terbuka untuk pertama kalinya kepada BBC Newsnight tentang penderitaan dan trauma mendalam yang dialaminya.
Perempuan itu meminta agar identitasnya dirahasiakan. Jadi kami menyebutnya sebagai Nicky.
Dia mengatakan bertemu dengan ahli keuangan yang tercela itu saat berusia 19 tahun dan sedang bekerja sebagai model.
Nicky bercerita setelah dirinya melakukan pijatan kepada Epstein di rumah mewah tepi pantainya di Palm Beach, Florida, pelaku lalu memberinya segelas air minum.
Setelah itu, Nicky pingsan selama berjam-jam, di mana ia meyakini bahwa dirinya telah diperkosa oleh Epstein.
Nicky mengatakan, ia merasa terpanggil untuk berani bersuara setelah melihat penyintas lainnya berbagi kisah mereka.
Kini, ia mendesak Departemen Kehakiman AS untuk merilis seluruh berkas yang tersisa mengenai rangkaian kasus kejahatan yang dilakukan Epstein.
'Kamu akan melakukan apapun untuk menghapus ingatan itu'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dalam wawancara mendalam dengan BBC Newsnight, Nicky menceritakan secara detail pelecehan yang dilakukan Epstein.
Sebagaimana yang juga dikisahkan oleh penyintas Epstein lainnya, interaksi Nicky dengan Epstein bermula dari sebuah pijatan. Epstein memintanya untuk melepaskan atasan dan bra miliknya.
"Sejujurnya saya berpikir, ok, mungkin dia hanya pria tua kaya yang punya fetish tertentu, ya sudahlah," ujarnya.
"Terserah. Maksud saya, itu bisa membayar uang sewa tempat tinggal saya."
Mungkin Anda tertarik:
Namun, beberapa minggu kemudian, ketika Nicky kembali menemui Epstein, pertemuan mereka terasa berbeda.
"Jadi saya melepas atasan saya seperti sebelumnya, mulai memijat dari kakinya, lalu naik ke atas. Ketika saya sampai di paha bagian atas dan berlanjut ke dadanya, dia menarik jins saya, seolah-olah hendak membuka kancingnya," kata Nicky.
Ia kemudian berbohong kepada Epstein dengan mengatakan bahwa dirinya sedang haid, meskipun hal itu tidak benar.
Sumber gambar, Stephanie Keith/Getty Images
Namun, Epstein tetap membujuknya untuk berhubungan seks, dan kemudian mulai melakukan masturbasi di hadapannya, kenang Nicky.
Nicky lalu segera berpakaian dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus "segera pergi dari sana". Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci minyak pijat dari tangannya, dan ketika ia kembali, Epstein menawarinya seteguk air.
"Saya meminum air itu dan setelahnya saya tidak memiliki ingatan apa pun selama setidaknya 12 jam," kata Nicky.
Ia mengatakan bahwa ia terbangun dengan perasaan mual, lemas, dan kepala yang berat.
Nicky lalu menuju ke kamar mandi. Dia melihat tanda-tanda di tubuhnya bahwa ia telah diperkosa, meskipun dirinya tidak bisa mengingat proses persetubuhan itu sama sekali.
"Saya telah menjalani berbagai psikoterapi untuk mencoba mengingat, mencoba mendapatkan sekilas gambaran tentang apa yang terjadi, namun semuanya gelap, saya tidak tahu apa-apa," ujarnya mengenai peristiwa itu.
"Tapi secara logis, saya bisa membuat berbagai asumsi yang saya rasa sangat akurat."
Ia yakin bahwa Epstein telah membiusnya dan melakukan kekerasan seksual terhadapnya.
Sore harinya, ketika Nicky bertemu Epstein, pria itu memintanya untuk memijatnya sekali lagi sebelum pergi.
Dan pada saat itulah, menurut Nicky, Epstein mengonfirmasi kecurigaan terburuknya.
"Dia sekali lagi mencoba menarik jins saya, dan saya bilang, 'tidak, tidak, saya sedang datang bulan,' lalu dia berkata, 'kamu tidak perlu berbohong padaku, [Nicky],'" kenangnya.
Nicky mengatakan, ia kemudian menyadari bahwa Epstein hanya bisa mengetahui bahwa ia tidak sedang menstruasi karena pria itu pasti telah memperkosanya saat ia sedang tidak sadarkan diri.
Setelah pemerkosaan itu terjadi, Nicky terus teringat apakah anak-anaknya akan lebih baik tanpa dirinya.
"Saya tidak tahu bagaimana saya bisa melaluinya," katanya mengenai cara ia bertahan hidup setelah kekerasan tersebut.
Semua berkas Epstein harus dirilis 'dengan benar, jujur, dan etis'
November lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menandatangani peraturan yang disahkan oleh Kongres, yang mewajibkan Departemen Kehakiman untuk merilis seluruh materi dari hasil penyelidikan mereka terhadap Epstein.
Namun, setelah jutaan dokumen dirilis, lembaga tersebut menghadapi kecaman dari kedua belah pihak (Partai Republik dan Demokrat). Para anggota parlemen AS menuduh lembaga itu gagal menyamarkan beberapa informasi identitas para penyintas, sementara di sisi lain justru melindungi identitas pihak-pihak yang bukan merupakan korban.
Hingga kini, sekitar dua juta berkas masih belum dirilis Departemen Kehakiman.
Fakta bahwa transparansi publik ini harus didorong oleh tindakan Kongres membuat Nicky merasa sangat geram.
"Itu benar-benar pemborosan uang pajak saya dan semua orang, benar-benar sia-sia," ujarnya.
Sumber gambar, Adam Gray/Getty Images
Lebih dari itu, nama undang-undang tersebut—Epstein Transparency Act (UU Transparansi Epstein)—membuatnya frustrasi, karena menurutnya nama itu terus mengagung-agungkan pelaku kekerasan beserta tindakan-tindakannya.
"Mengapa tidak menamainya Survivors Act (UU Penyintas) atau Virginia Transparency Act atau semacamnya?" kata Nicky.
"Tapi tidak, kita justru terus mengagung-agungkan orang yang mengerikan dan menjijikkan ini, yang benar-benar seorang monster."
Dua juta berkas yang belum dipublikasikan adalah dokumen yang menurut Nicky ingin ia lihat dirilis dengan "benar, jujur, dan etis."
"Saya rasa itu bukan permintaan yang berlebihan," ujarnya. "Saya sangat berharap kami semua bisa sembuh [dari trauma]."
Namun, menurut Nicky, memulihkan diri saat sosok pelaku kekerasan terasa mustahil untuk dihindari adalah hal yang sulit.
"Terus-menerus diungkit dan dilemparkan ke hadapan kami di setiap kesempatan—di setiap saluran TV yang Anda nyalakan, halaman depan majalah saat mengantre di toko kelontong, media sosial, dan apa pun itu—hal tersebut tidak membiarkan kami sembuh," katanya.
"Kami para penyintas tidak lebih dari sekadar pion untuk wacana politik saat ini, dan itu menjijikkan."
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia