Tiga prajurit TNI tewas akibat ledakan pinggir jalan di Lebanon, sebut penyelidikan awal
Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Anna Lamche
- Waktu membaca: 4 menit
Dua prajurit Indonesia yang menjadi anggota pasukan penjaga perdamaian meninggal dunia pada Senin (30/03) akibat sebuah "ledakan di pinggir jalan" di Lebanon selatan, kata kepala penjaga perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, mengutip temuan penyelidikan awal.
Dalam pernyataan terpisah, Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) mengatakan ledakan tersebut "berasal dari sumber yang tidak diketahui" dan "menghancurkan" kendaraan para penjaga perdamaian di dekat Bani Hayyan.
Dua prajurit TNI lainnya mengalami cedera akibat serangan tersebut. Salah satunya mengalami luka "parah" akibat ledakan tersebut, kata UNIFIL.
Ini merupakan insiden fatal kedua dalam 24 jam.
Seorang prajurit TNI meninggal pada Minggu (29/03) ketika sebuah proyektil, juga dengan asal yang tidak diketahui, meledak di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan.
Siapa saja prajurit TNI yang menjadi korban?
TNI mengonfirmasi dua prajurit yang meninggal di wilayah penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), pada Senin (30/03), adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Dua prajurit yang mengalami luka-luka adalah Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
Adapun seorang prajurit TNI yang meninggal dunia pada Minggu (29/03) bernama Farizal Rhomadhon dengan pangkat Prajurit Kepala.
Praka Farizal merupakan personel yang tergabung dalam pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/ UNIFIL.
Insiden pada Minggu (29/03) juga mencederai tiga prajurit, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Hasil penyelidikan awal
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
UNIFIL mengatakan pihaknya telah menggelar penyelidikan untuk menentukan apa yang terjadi dalam kedua insiden tersebut.
Temuan penyelidikan "awal" atas insiden pada Senin (30/03) "mengarah pada ledakan di pinggir jalan yang menghantam konvoi tersebut", kata Lacroix kepada Dewan Keamanan PBB.
Kematian mereka "kemungkinan besar" disebabkan oleh sebuah IED (alat peledak rakitan), kata Stéphane Dujarric, juru bicara sekretaris jenderal PBB.
Soal insiden pada Minggu (29/03), Dujarric mengatakan insiden itu kemungkinan disebabkan oleh "sebuah bahan peledak yang jatuh di posisi yang sedang dijaga oleh pasukan Indonesia".
Tapi, Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 25/Siwah Kolonel Inf Dimar Bahtera mengatakan, Praka Farizal Rhomadhon meninggal ketika menjalankan tugasnya sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
Farizal, menurut Dimar, terkena serangan mortir tentara Israel saat salat Isya di pos jaga pasukan UNIFIL, dekat Adchit Al Qusayr.
"Yang bersangkutan sedang melaksanakan salat [isya] dan di situ sedang ada mortir artileri yang jatuh di samping masjid," ungkap Dimar kepada wartawan di rumah duka keluarga Farizal Rhomadon di Yogyakarta, Selasa (31/03).
Baca juga:
Dujarric mengatakan para penjaga perdamaian di Lebanon adalah "prajurit yang dikirim ke sana atas nama komunitas internasional... dan semua pihak perlu memastikan bahwa mereka dilindungi dan tidak pernah menjadi sasaran".
Ia mendesak Lebanon dan Israel untuk menggunakan mekanisme UNIFIL untuk dialog, seraya menyatakan bahwa "intinya adalah kedaulatan dan keutuhan teritorial Lebanon perlu dihormati".
Dalam sebuah pernyataan, UNIFIL mengatakan: "Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga, sahabat, dan rekan-rekan para penjaga perdamaian pemberani tersebut yang telah mengorbankan nyawa mereka dalam pengabdian untuk perdamaian."
Dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 1978, UNIFIL sejak saat itu berfungsi sebagai penyangga antara Israel dan Lebanon.
Pasukan penjaga perdamaian tersebut berpatroli di "Garis Biru"—perbatasan de facto antara Lebanon dan Israel—bekerja sama dengan tentara Lebanon.
Sekitar 339 penjaga perdamaian telah tewas sejak misi tersebut dibentuk.
Apa yang sedang terjadi di Lebanon?
Kematian tiga prajurit TNI terjadi tidak lama setelah militer Israel mengumumkan akan meningkatkan serangan darat dan udara terhadap kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon.
Di sisi lain, Hizbullah, sebuah milisi yang didukung Iran sekaligus partai politik, telah menembakkan roket ke Israel sebagai pembalasan atas serangan AS–Israel yang sedang berlangsung terhadap Iran.
Meski terdapat gencatan senjata pada November 2024 antara Israel dan Hizbullah, yang dimediasi setelah kekerasan meningkat di antara keduanya, Israel telah melakukan serangan hampir setiap hari terhadap target-target Hizbullah.
Israel mengatakan kelompok bersenjata tersebut tidak mematuhi ketentuan gencatan senjata—yang mewajibkan Hizbullah untuk melucuti senjata dan meninggalkan posisinya di wilayah selatan—serta menuduh UNIFIL dan tentara Lebanon tidak berbuat cukup banyak untuk menyingkirkan militan mereka dari kawasan tersebut.
Sejak gencatan senjata dimulai, 1.268 orang telah tewas di Lebanon, menurut kementerian kesehatan Lebanon, termasuk 124 anak-anak.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa sebuah zona penyangga akan dibentuk di dalam wilayah Lebanon selatan.
Ia menegaskan, kendali keamanan atas sebagian besar kawasan itu akan tetap berada di tangan Israel, bahkan setelah perang melawan kelompok bersenjata Hizbullah berakhir.
Katz menyebut area yang akan diduduki membentang hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari garis perbatasan Israel. Lebih jauh, ia menambahkan bahwa seluruh rumah di desa-desa Lebanon yang berdekatan dengan perbatasan akan diratakan.
Pernyataan ini menandai eskalasi baru dalam konflik, sekaligus menimbulkan kekhawatiran atas dampak kemanusiaan di kawasan perbatasan.
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia