Longsor Cisarua – 57 korban tewas teridentifikasi, 'tersisa enam orang' yang belum ditemukan

longsor, bandung barat, cisarua

Sumber gambar, Dasril Roszandi/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Keluarga korban menangis setelah melihat jenazah yang ditemukan, Senin (26/01).
Waktu membaca: 12 menit

Korban tewas akibat longsor di Desa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang telah teridentifikasi mencapai 57 orang. Angka ini merujuk data terbaru BNPB terkait peristiwa yang terjadi 25 Januari lalu itu.

Hingga Senin (02/02), BNPB telah mengumpulkan jenazah dalam 74 kantong berbeda. Dari angka itu, 57 kantong jenazah di antaranya telah terkonfirmasi soal identitasnya.

Menurut Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, meyakini tinggal enam orang korban yang belum ditemukan. Dia berkata, tim SAR sejak longsor terjadi terus memperluas wilayah pencarian. Tujuannya, memperbesar potensi penemuan korban.

Untuk mencari korban, terdapat 18 alat berat yang dioperasikan, kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari.

"Tim SAR gabungan menambah pengerahan alat berat guna memperluas area pencarian terhadap enam orang yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang," ujarnya.

Di lokasi pencarian, kata Abdul, terdapat 3.229 personel yang bekerja. Dia menyebut pencarian kerap terkendala hujan yang turun di Desa Cisarua.

Sebelumnya, cuaca buruk dan kondisi tanah yang labil juga disebut menghambat operasi pencarian korban.

"Permasalahannya di kondisi cuaca, alam, sehingga kita tidak bisa maksimal," kata Direktur Operasi Basarnas, Laksma Y. Bramantyo N, 29 Januari lalu.

Pengungsi dipindahkan ke hunian sementara

Para pengungsi korban longsor Cisarua akan dipindahkan dari tempat pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu ke hunian sementara, kata Kepala BNBP Suharyanto dalam rilis tertulisnya.

Ada dua opsi hunian sementara yang disiapkan untuk pengungsi, ungkapnya.

Opsi pertama, pengungsi dipindahkan ke hunian sementara yang dibangun pemerintah.

Dan opsi kedua, lanjut BNPB, pengungsi mencari sendiri hunian sementara dan diberi dana tunggu hunian sebesar Rp 600 ribu per keluarga setiap bulan.

longsor, bandung barat, cisarua

Sumber gambar, Dasril Roszandi/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Memasuki hari keenam, Tim SAR gabungan terus melanjutkan upaya pencarian 27 orang yang diduga masih terkubur longsoran.

Para pengungsi direncanakan menempati hunian sementara selama tiga bulan mulai Januari 2026 hingga Maret 2026.

Itu dilakukan sambil menunggu rampungnya pembangunan hunian tetap, seperti dilaporkan Tempo.co.

Tapi, apabila hunian tetap belum rampung, maka jangka waktu penempatan hunian sementara akan diperpanjang.

Data resmu menyebutkan setidaknya ada 48 rumah milik warga yang tercatat terdampak longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

23 anggota TNI turut terkubur longsor

Puluhan orang diperkirakan masih dalam pencarian dalam bahala longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, termasuk anggota TNI dari kesatuan Marinir yang sebelumnya dikabarkan sedang berlatih di sekitar lokasi tersebut.

Hal ini dikonfirmasi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali seperti dikutip Kompas.com, Senin (26/01).

"Memang terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor," kata Ali.

Dari puluhan prajurit ini, empat di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban bencana tanah longsor yang ditemukan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura/tom

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban bencana tanah longsor yang ditemukan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

"Dan (yang) lain belum ditemukan, masih diadakan upaya pencarian terus," ujarnya.

Sebelumnya beredar kabar di media sosial, mengenai puluhan anggota TNI yang menjadi korban longsor Cisarua. Sebanyak 23 anggota TNI tersebut dikabarkan tengah melaksanakan latihan tempur di sekitar lokasi longsor.

Para personel dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing telah mendapatkan titik koordinat lokasi latihan. Mereka berangkat menuju lokasi pada Jumat malam dan tiba sekitar pukul 20.00 WIB.

Namun, pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, longsor terjadi di kawasan latihan tersebut. Sejak saat itu, para personel tidak dapat dihubungi dan komunikasi terputus.

Pada Senin (26/01), Tim SAR gabungan kembali membawa 13 kantong jenazah yang berisi potongan anggota tubuh, menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Total pencarian dari hari pertama hingga hari ini (26/1) pukul 18.30 berjumlah 38 kantong jenazah yang diserahkan ke tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk selanjutnya akan diproses identifikasi.

Hasil identifikasi terakhir menunjukkan 17 orang meninggal. Puluhan lainnya diduga masih hilang.

Kisah ayah yang mencari putrinya di tengah temuan korban-korban

Sejak Sabtu (24/1), puluhan orang dari keluarga korban longsor Cisarua di Kabupaten Bandung Barat, cemas menanti kabar kondisi kerabat mereka di Pos Postmortem Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat.

Setiap ambulans datang membawa kantong jenazah, mereka serempak mendekat, memastikan apakah jenazah tersebut adalah keluarganya.

Setiap tanda atau ciri-ciri yang melekat di tubuh anggota keluarga, mereka tanyakan ke petugas guna dicocokkan dengan jenazah yang ditemukan.

"Pakai gelang hitam enggak, Bu?" tanya Adi berulang-ulang kepada petugas DVI, ketika satu kantong jenazah datang.

Pria itu mengingat anaknya, Delisa yang mengenakan gelang warna itu.

Namun saat itu, petugas meminta Adi bersabar lantaran proses identifikasi masih berlangsung.

Adi (kiri) ikut mencari anaknya yang tertimbun longsor sedang menemani kerabatnya yang ikut menanti korban-korban ditemukan.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Adi (kiri) ikut mencari anaknya yang tertimbun longsor sedang menemani kerabatnya yang ikut menanti korban-korban ditemukan.

Saat menerima jawaban belum pasti, ia terus berusaha menahan air mata.

Hari itu, Adi tidak menjadikan menunggu sebagai satu-satunya pilihan. Ia ikut mencari keberadaan anak perempuannya yang baru berusia 11 tahun itu di lokasi longsor.

Berhari-hari pencarian, Adi akhirnya menemukan putrinya. Jenazah Delisa terangkat dari longsoran tanah sekitar pukul 14.00 WIB, Senin (26/1).

"Sudah tahu itu Delisa, karena pakai gelang [hitam]," kata Ai Jubaedah yang juga masih bersaudara dengan Adi. Tapi ia masih belum mengetahui lebih rinci tentang situasi saat ini.

Delisah adalah satu dari 11 anggota keluarga Ai Jubaedah yang menjadi korban longsor. Saat ini sudah lima orang keluarganya yang ditemukan.

Ai Jubaedah membenarkan Delisa, putri dari Adi ditemukan Senin (26/01). Delisa adalah satu dari 11 orang keluarganya yang tertimbun longsor.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Ai Jubaedah membenarkan Delisa, putri dari Adi ditemukan Senin (26/01). Delisa adalah satu dari 11 orang keluarganya yang tertimbun longsor.

"Yang ditemukan kondisinya sudah meninggal tertimbun longsor dan material-material. Yang satu mungkin kebawa arus karena ditemukan jauh dari lokasi kejadian," sebut Ai.

Keluarga Ai kebanyakan bermukim di Desa Pasirlangu dan Pasirkuda yang terletak di lereng Gunung Burangrang.

Ai menyebut, longsor itu berawal dari Bukit Mentari yang turun mengubur rumah-rumah di bawahnya.

"Saya melihat di lokasi kejadian itu, sekitar rumah warga tertimbun material longsornya sangat tebal sama batu-batu yang sangat besar kalau dikatakan mah sebesar rumah. Yang tadinya lembah, jadi rata," tutur Ai.

Petugas di Posko Pelaporan Orang Hilang DVI Polda Jabar.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Petugas di Posko Pelaporan Orang Hilang DVI Polda Jabar.

Rumah anak sulung Titi, warga Kampung Pasirkuning, juga tertimbun material longsor sehingga nenek 60 tahun itu kehilangan anak, menantu, cucu, dan buyutnya.

Namun Titi hanya bisa menunggu dan berharap di Posko Pengungsian Kantor Desa Pasirlangu.

"Anak, cucu, buyut dari anak sulung tidak tahu nasibnya, karena masih di dalam. Tertimbun semuanya. Besan-besan emak juga tinggal di sana. Semuanya berkumpul," kata Titi yang berbicara dalam bahasa Sunda.

Keluarga yang menunggu kabar penemuan jenazah kerabatnya yang tertimbun longsor.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Keluarga yang menunggu kabar penemuan jenazah kerabatnya yang tertimbun longsor.

Titi berharap Tim SAR segera menemukan anak cucunya, meski ia tahu sangat kecil kemungkinan keturunannya ditemukan selamat.

"Emak dari tadi nangis, mungkin dari sekarang tidak akan bertemu lagi sama anak," ucapnya sedih.

Kesedihan serupa dirasakan Neni Nurhayati yang kehilangan 10 keponakan. Hingga Senin (26/1), belum satu pun keluarga Neni yang ditemukan.

"Memang sudah ada yang ditemukan sama Tim SAR, tapi belum ada kabar kalau yang ditemukan itu keluarga saya. Mudah-mudahan Tim SAR segera menemukan," kata Neni yang masih bertahan di posko pengungsian.

Pendataan korban longsor Cisarua di Posko Informasi Kantor Desa Pasirlangu.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Pendataan korban longsor Cisarua di Posko Informasi Kantor Desa Pasirlangu.

Tim SAR Gabungan kembali melakukan pencarian terhadap kurang lebih 80 warga yang dilaporkan hilang pasca bencana longsor Cisarua, Senin (26/1).

Di hari ketiga ini, pencarian akan difokuskan di bagian Timur dan Barat Desa Pasirlangu.

Sembilan excavator dikerahkan untuk melakukan pencarian. Personil yang terlibat sebanyak dua ribu lebih dari berbagai instansi dan unsur masyarakat.

Kesaksian penyintas longsor: 'Ada yang menjerit-jerit dan menangis'

Titi baru akan kembali tidur setelah terbangun pada pukul 02.30 WIB, Sabtu (25/1), ketika mendengar suara ledakan sekaligus jeritan.

Anak Titi yang tinggal serumah menyuruhnya segera keluar rumah.

"Emak keluar, katanya, khawatir ada yang meninggal. (Terdengar) ada yang menjerit-jerit dan menangis. Emak sama anak, menantu, dan cucu keluar rumah. Ternyata di sebelah sana sudah longsor. Rumah dan orangnya sudah tenggelam. Anak sulung Emak, sama cucu, dan buyut enggak tahu bagaimana nasibnya karena masih di dalam rumah," beber Titi.

Suara gemuruh terdengar pula oleh Neni Nurhayati. Seperti suara "pesawat terbang," katanya.

Saat itu, kata Neni, hujan sedang turun sejak Jumat (23/1) pagi. Aliran listrik juga terputus.

tanah longsor, bandung, pasirlangu, cisarua, bandung barat

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban bencana tanah longsor yang ditemukan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/01).

"Pas dengar suara gemuruh itu, terus orang-orang pada teriak 'keluar-keluar'. Saya bersama anak dan suami langsung lari ke masjid. Di masjid ada yang nganterin ke sini (posko pengungsian)," ujar perempuan 38 tahun ini.

Rumah Neni yang berlokasi di Kampung Babakan Cibudah terhindar dari timbunan longsor lantaran posisinya di atas. Berbeda dengan rumah tetangga yang persis berada di sebelah rumahnya. Rumah itu ikut terseret material longsor karena berada di bawah.

"Insyaallah kalau rumah aman. Semalam juga aman rumah mah. Kan rumah saya di atas, Cuma takutnya ada longsor susulan, jadi mengungsi di sini," kata Neni.

Rencana Pemprov Jabar relokasi rumah warga

Pemerintah Jawa Barat menyatakan, longsor terjadi sepanjang tiga kilometer dengan kedalaman 150 meter.

Longsor tersebut menimbun kurang lebih 30 rumah yang dihuni lebih dari 100 orang.

Selain di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, longsor juga terjadi di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Di sana dua orang warga meninggal.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berencana merelokasi warga yang terdampak longsor di Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Dedi, lingkungan sekitar lokasi longsor dipenuhi tanaman sayur. Dengan kontur daerah perbukitan, keberadaan kebun sayur rentan memicu longsor sehingga dapat membahayakan warga.

"Daerah di sini dihutankan saja. Warga di sini direlokasi karena potensi longsor timggi," ucap Dedi usai meninjau lokasi longsor di Cisarua, Sabtu.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta kepada korban longsor yang selamat.

Bantuan itu untuk biaya kontrak rumah selama dua bulan dan kebutuhan sehari-hari.

Sementara, bagi keluarga korban meninggal akan mendapatkan santunan sebesar Rp25 juta per kepala keluarga.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat memberikan pemaparan sebuah diskusi. Ia berjanji akan merelokasi pemukiman warga di kawasan rawan longsor di Kabupaten Bandung Barat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa

Keterangan gambar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat memberikan pemaparan sebuah diskusi. Ia berjanji akan merelokasi pemukiman warga di kawasan rawan longsor di Kabupaten Bandung Barat.

Menurut kajian Badan Geologi, longsor di Desa Pasirlangu berdampak pada area seluas kurang lebih 30 hektar.

Wilayah ini merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup intensif.

Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum memadai ikut mempengaruhi kestabilan lereng dan memperbesar potensi terjadinya gerakan tanah.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), lokasi kejadian termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah.

Pada zona ini, gerakan tanah dapat terjadi terutama pada lereng yang telah terganggu secara alami maupun oleh aktivitas manusia, khususnya pada saat curah hujan tinggi dan berlangsung lama.

"Kejadian gerakan tanah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, merupakan hasil interaksi antara kondisi geologi regional dan lokal, morfologi curam, tata guna lahan, serta faktor pemicu berupa curah hujan tinggi," kata Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, melalui siaran pers, Senin (26/1).

"Karakteristik batuan gunungapi tua yang lapuk dan keberadaan struktur geologi memperbesar kerentanan wilayah terhadap longsor, khususnya pada zona ZKGT Menengah."

Tanah longsor menimpa Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Tanah longsor menimpa Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tercatat 17 orang sampai Senin (26/01) pagi.

"Tim SAR gabungan kemarin Minggu (25/01) telah berhasil menyerahkan total 25 kantong jenazah," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, Senin pagi.

Jumlah ini termasuk 11 jenazah yang berhasil teridentifikasi serta enam yang masih proses identifikasi, tambah Abdul Muhari dalam rilis tertulis yang diterima BBC News Indonesia.

Pada Senin (26/01) pagi, proses pencarian kembali dilanjutkan dengan fokus titik pencarian yang sebelumnya sudah dipetakan melalui gambar yang diolah melalui drone.

Tanah longsor terjadi pada Sabtu (24/01) dini hari, dan dilaporkan puluhan rumah tertimbun.

Longsor terjadi saat sebagian besar warga terlelap, sekitar pukul 02.30 WIB dini hari.

Sebelum longsor, kawasan tersebut diguyur hujan deras disertai angin kencang selama dua hari terakhir, menurut Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis.

Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura

Keterangan gambar, Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/01).

Kapolsek Cisarua, AY Yogaswara, mengatakan longsor diawali suara gemuruh keras. Sesaat kemudian, material tanah dan lumpur meluncur dari Kampung Pasirkuning hingga Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu.

"Saat kejadian warga mendengar suara gemuruh cukup kuat, kemudian material longsor bergerak dari arah Kampung Pasirkuning menuju Kampung Pasir Kuda dan disertai banjir bandang," ujarnya sebagaimana dikutip kantor berita Antara.

Akibat kejadian tersebut, puluhan rumah warga dilaporkan tertimbun material longsor dan lumpur, sehingga menyebabkan kerusakan berat pada permukiman di sekitar lokasi terdampak.

Tim SAR Gabungan masih terus mencari korban hilang dalam bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat.

Sumber gambar, Basarnas

Keterangan gambar, Tim SAR Gabungan masih terus mencari korban hilang dalam bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat menyatakan peristiwa ini berdampak terhadap sekitar 34 kepala keluarga atau 113 jiwa. Adapun jumlah rumah terdampak masih dalam pendataan petugas di lapangan.

Warga yang berada di sekitar lokasi longsor kini diungsikan ke kantor desa. Kemudian ada beberapa warga yang dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.

"Kita pusatkan untuk informasi dan pengungsian di kantor desa. Jadi masih bercampur ini antara yang terdampak dan warga sekitar yang khawatir akan kejadian longsor," kata Nur Awaludin kepada detik.com.

tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga membersihkan puing bangunan saat mencari korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari kepolisian, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, serta masyarakat setempat, masih melakukan proses evakuasi dan pencarian korban.

Namun demikian upaya pencarian sempat terkendala oleh kondisi medan yang berat, material longsor yang tebal, serta cuaca yang masih berpotensi hujan di wilayah tersebut.

Ratusan orang mengungsi

Peristiwa longsor di Kecamatan Cisarua menyebabkan sebanyak 400 warga harus dievakuasi oleh tim petugas gabungan, berdasarkan catatan BPBD Jabar.

"Untuk penanganan korban, kami sudah menyiapkan sejumlah pos, mulai dari pos utama hingga pos lapangan. Pos lapangan berada di bawah, termasuk di posko Basarnas," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jabar, Bambang Imanudin, Sabtu (24/01).

tempat pengungsian sementara di Kantor Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga korban bencana tanah longsor beristirahat di tempat pengungsian sementara di Kantor Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Bambang menyebutkan para pengungsi saat ini membutuhkan bantuan mendesak berupa matras, selimut, serta bahan kebutuhan pokok.

Menurut dia, pasokan logistik terus diupayakan agar mencukupi, termasuk dukungan dari Pemerintah Provinsi Jabar yang sudah mulai disalurkan ke wilayah terdampak.

"Untuk logistik, kami berharap semuanya tercukupi, termasuk bantuan dari pemerintah provinsi yang sudah mulai masuk," ujarnya.

material longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga mencari barang yang masih dapat digunakan di antara puing rumah yang tertimbun material longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/01).

Status darurat bencana

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan status darurat bencana menyusul peristiwa longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, mengatakan penetapan status tersebut dilakukan guna mempercepat proses penanganan di lapangan, termasuk pencarian puluhan warga yang dinyatakan hilang.

"Saya tetapkan per hari ini darurat bencana, karena korban cukup banyak," ujar Bupati Jeje di Bandung Barat, Sabtu (24/01).

Jeje menegaskan pemerintah daerah akan memperkuat langkah mitigasi bencana ke depan, mengingat wilayah Bandung Barat dan Jawa Barat pada umumnya merupakan kawasan rawan bencana.

"Kami akan melakukan koordinasi secara masif, terutama di daerah rawan seperti perbukitan dan tanah miring," paparnya.

Dengan status darurat bencana tersebut, ia memastikan seluruh sumber daya pemerintah daerah akan dimaksimalkan untuk penanganan korban.

Wartawan Yuli Saputra di Jawa Barat berkontribusi dalam artikel ini.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.