'Ada yang tak beres' – Kisah pasangan menerima donor sperma yang salah dari klinik bayi tabung di Siprus Utara

Sumber gambar, Keith Bridle / BBC
- Penulis, Anna Collinson
- Peranan, File on 4 Investigates
- Penulis, Jo Adnitt
- Peranan, BBC News Investigations
- Waktu membaca: 10 menit
"Tak lama setelah James lahir, saya sudah tahu ada yang tidak beres," kata Laura.
Dia dan pasangannya, Beth, punya dua anak—James dan anak sulung mereka, Kate. Kedua anaknya merupakan hasil perawatan klinik bayi tabung di bagian utara Siprus yang diduduki Turki.
Kedua pasangan perempuan itu menggunakan sel telur mereka sendiri dan dengan cermat memilih seorang donor sperma anonim dan sehat.
Mereka memberitahu pihak klinik, agar mereka memperoleh donor sperma dari orang yang sama untuk kedua bayinya tersebut. Dengan begitu, anak-anak mereka kelak memiliki hubungan biologis.
Tapi saat James lahir, pasangan ini menyadari mata cokelat "cantiknya" sangat berbeda dengan sang ibu kandungnya, Beth, maupun pendonor sperma yang diminta keluarga tersebut.
Hal itu memicu keraguan di benak orang tuanya: "Apakah klinik kami telah melakukan kesalahan?"
Setelah hampir satu dekade merasa cemas, Beth dan Laura memutuskan agar anak-anak mereka menjalani tes DNA. Hasilnya menunjukkan, tidak ada satu pun dari anak-anak tersebut yang memiliki hubungan darah dengan donor sperma yang dipilih orang tua mereka.
Terlebih lagi, bukti tersebut menunjukkan, anak-anak tersebut bahkan tidak memiliki hubungan darah satu sama lain.
"Perasaan ngeri itu muncul karena kami tahu ada sesuatu yang sangat salah, dan apa artinya hal itu bagi anak-anak?" kata Beth.

Sumber gambar, Dokumentasi Keluarga
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
BBC News telah mewawancarai keluarga dari total tujuh anak yang meyakini bahwa mereka menerima donor sperma atau sel telur yang salah selama proses bayi tabung.
Sebagian besar keluarga ini telah melakukan tes DNA komersial yang tampaknya mengonfirmasi kekhawatiran mereka.
Semua kasus tersebut terkait dengan klinik-klinik di Siprus Utara—wilayah di mana undang-undang Uni Eropa tidak berlaku, dan hanya diakui secara hukum oleh Turki.
Siprus Utara telah menjadi salah satu tujuan paling populer bagi warga Kerajaan Bersatu (UK) yang mencari perawatan kesuburan di luar negeri, kata para ahli.
Klinik-klinik di sana punya aturan yang longgar, menjanjikan harga murah, serta tingkat keberhasilan yang tinggi.
Mereka menawarkan beragam donor sel telur dan sperma anonim dari seluruh dunia. Tawaran ini sangat menarik minat orang-orang yang mengalami masalah fertilitas, komunitas LGBT, atau orang dewasa lajang yang mungkin tidak dapat mengakses pilihan semacam itu di negara mereka sendiri.
Ada banyak video dan foto di media sosial yang menampilkan calon orang tua yang berbagi pengalaman positif mereka.
Klinik-klinik di Siprus Utara juga menawarkan prosedur yang ilegal di Kerajaan Bersatu, seperti pemilihan jenis kelamin untuk alasan non-medis.
Kementerian Kesehatan wilayah tersebut mengawasi klinik-klinik fertilitas di sana, namun belum menanggapi temuan kami meskipun telah berulang kali diminta.
'Kami sudah pesan sperma dari Denmark'
Membangun kepercayaan kepada semua keluarga yang menjadi narasumber dalam investigasi ini membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Kami bekerja sama erat dengan Beth, Laura, Kate, dan James untuk memastikan mereka siap untuk berbagi kisah.
Beth dan Laura bercerita, mereka telah memutuskan untuk membangun sebuah keluarga pada 2011.
Mereka memilih Dogus IVF Centre di Siprus Utara. Koordinator pasien di sana saat itu, Julie Hodson, memberi tahu mereka bahwa klinik tersebut dapat mengimpor sperma beku dari bank sperma terbesar di dunia, Cryos International, yang berlokasi di Denmark.
Pasangan itu mengaku terkesan dengan beragam donor anonim yang telah menjalani "pemeriksaan kesehatan menyeluruh" dan tes psikologis.
Mereka tertarik pada profil seorang donor dengan panggilan "Finn" — seorang pria Denmark yang menggambarkan dirinya sebagai orang yang bugar dan sehat, jarang minum alkohol, dan tidak pernah merokok.

Dalam catatan tulisan tangan yang mereka baca, Finn mengatakan bahwa motivasinya mendonorkan sperma untuk "memberikan kehidupan dan kebahagiaan kepada orang lain".
Beth dan Laura berharap profil yang rinci itu akan memberikan kenyamanan bagi anak-anak mereka kelak saat tumbuh dewasa.
"Kami merasa, sangat penting bagi anak-anak kami untuk memiliki gambaran tentang siapa donor mereka, karena itu adalah separuh dari jati diri mereka," kata Beth.
Finn dan kerabatnya dari Denmark punya ciri fisik yang mirip dengan pasangan asal Inggris tersebut—mata berwarna terang dan rambut cokelat, seperti yang sebagaimana ditunjukkan oleh silsilah keluarga.
"Kami bertanya kepada koordinator pasien kami, Julie, apa yang perlu kami lakukan untuk memesan sperma Finn," kenang Laura. "Dan dia berkata: 'Dr. Firdevs akan memesannya untuk kalian.' Itu saja."
Pasangan tersebut mengatakan, perawatan bayi tabung mereka di Dogus dilakukan oleh Dr. Firdevs Uguz Tip - mereka menggambarkan Firdevs dan timnya sebagai "ramah dan baik hati".
Sembilan bulan kemudian, Laura melahirkan anak pertama mereka, Kate.

Saat pasangan itu ingin punya anak kedua, mereka kembali menemui tim bayi tabung yang sama dan menanyakan apakah mereka bisa menggunakan donor Finn lagi. Hodson mengonfirmasi lewat surel bahwa Firdevs akan memesan kembali sperma tersebut.
Kali ini, Beth melahirkan James.
Biaya perawatan kesuburan pasangan tersebut di Siprus Utara, termasuk obat-obatan, penginapan, dan tiket pesawat, diperkirakan mencapai total £16.000 (Rp395 juta) — dengan biaya sperma Finn sebesar £2.000 (Rp44 juta)
Beth dan Laura mengatakan, sejak usia dini, mereka terbuka kepada anak-anak mereka mengenai pria yang mereka yakini sebagai pendonor.
"Keduanya akan menyebut diri mereka 'setengah Denmark'," kata Laura.
Namun, mata bulat hitam, rambut hitam, dan kulit zaitun James membuat orang tuanya curiga donornya bukanlah Finn.
Setelah bertahun-tahun mempertimbangkan, Beth dan Laura akhirnya memutuskan kedua anak tersebut harus menjalani tes DNA.
Hasil tes menunjukkan, tidak ada satu pun dari kedua anak menggunakan sperma Finn. Hasil tersebut juga menunjukkan, kedua anak berasal dari donor sperma yang berbeda dan tidak punya hubungan biologis satu sama lain.
Hasil tes tersebut membuat kedua orang tua "sangat marah" dan dipenuhi dengan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Siapakah para donor tersebut dan, jika ada, pemeriksaan kesehatan apa saja yang telah dilakukan?
"Kami berubah dari memiliki profil donor Finn yang bagus dan merasa seolah-olah kami mengetahui riwayat keluarga dan kesehatannya, menjadi tidak tahu apa-apa," kata Beth.
Beth dan Laura mencoba menghubungi Firdevs dan Hodson, tetapi keduanya tidak merespons.

BBC telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Beth dan Laura.
Selama penyelidikan, kami menemukan dua keluarga Britania lainnya yang pernah ditangani Firdevs. Mereka pun curiga sudah memperoleh donor yang salah terhadap bayi tabung mereka.
Mereka pun telah melakukan tes DNA komersial yang menunjukkan kecurigaan mereka terbukti benar.
Beth dan Laura mempertanyakan apakah klinik mereka benar-benar memesan sperma donor Finn.
Ketika kami menghubungi Firdevs, ia mengatakan tidak bertanggung jawab atas pemesanan sperma di Dogus dan menyatakan, tidak ada informasi mengenai permintaan donor Finn yang diteruskan kepadanya.
Dia juga meragukan keandalan tes DNA komersial yang dilakukan Beth dan Laura. Menurutnya, tidak mungkin menyimpulkan "dengan pasti" mengenai kesalahan penggunaan donor.
Firdevs juga mengatakan kepada BBC "tidak melakukan perawatan bayi tabung" antara 2011 dan 2014, saat Beth dan Laura menjadi pasien, meskipun terdapat deskripsi terperinci di situs web Dogus sendiri mengenai prosedur yang ditawarkannya pada saat itu.
Klinik Dogus, yang menurut Firdevs bertanggung jawab atas perawatan Beth dan Laura, belum menanggapi permintaan komentar kami.
Pada 2015, Firdevs dan Hodson telah meninggalkan Dogus dan bekerja bersama di sebuah klinik lain di Siprus Utara.
Hodson, yang kini tidak lagi bekerja di wilayah tersebut, belum menanggapi pertanyaan BBC mengenai apakah ia meneruskan pesanan sperma tersebut kepada Firdevs.
Beth, Laura, dan anak-anaknya kini telah menjalani tes DNA lanjutan yang terakreditasi dan dapat digunakan di pengadilan Inggris. Tes-tes ini telah mengonfirmasi James dan Kate tidak memiliki hubungan biologis dan tidak dikandung dari donor sperma yang sama.
Seorang pakar genetika forensik terkemuka, yang telah menganalisis semua tes keluarga tersebut, mengatakan kepada kami bahwa kecil kemungkinan salah satu dari kedua anak tersebut memiliki hubungan biologis dengan donor Finn.

Kami berbincang dengan Cryos International, bank sperma di Denmark yang diyakini Beth dan Laura, serta satu keluarga lain dalam penyelidikan kami, sebagai tempat pemesanan sperma tersebut.
"Kami memiliki banyak prosedur keamanan, tetapi itu tidak akan pernah menjamin 100%. Ini urusan manusia," kata Ole Schou, CEO perusahaan tersebut. Namun, ia menambahkan, kesalahan semacam itu belum pernah tercatat dalam sejarah 45 tahun Cryos.
Sejumlah spesialis kesuburan dari seluruh Eropa mengatakan kepada BBC, kemungkinan penggunaan donor yang salah secara tidak sengaja, selama prosedur IVF, sangat jarang terjadi.
Namun, menurut para ahli, terjadinya kesalahan seperti ini lebih dari sekali, dan melibatkan tim medis yang sama, dapat mengindikasikan adanya "kelalaian" atau bahkan "penipuan".
"Ini adalah situasi yang benar-benar mengerikan bagi pasien," kata Dr Ippokratis Sarris dari British Fertility Society setelah melihat temuan tersebut.
"Saya belum pernah mendengar insiden seperti ini di Kerajaan Bersatu. Ini adalah ketakutan terbesar bagi unit IVF mana pun untuk salah mencampurkan sel telur, sperma, atau embrio."
Siprus Utara memiliki undang-undang mengenai fertilitas dan bayi tabung. Namun tidak seperti Kerajaan Bersatu, wilayah ini tidak punya badan pengawas fertilitas independen untuk memantau klinik-klinik, menegakkan standar, dan, jika perlu, mencabut izin.
Advokat sekaligus aktivis, Mine Atli, yang tinggal di Siprus Utara, mengatakan, "Klinik yang mematuhi aturan melakukannya karena pemiliknya memiliki hati nurani yang baik. Ini bukanlah sesuatu yang dipaksakan oleh negara."
Regulasi itu mempengaruhi biaya perawatan menjadi lebih mahal, sebagaimana negara-negara lain seperti Kerjaan Bersatu.
Sarris dari British Fertility Society mengatakan, itulah salah satu alasan mengapa ia menduga Siprus Utara telah menjadi tujuan yang begitu populer untuk perawatan kesuburan.
Kami juga mendengar kekhawatiran mengenai kesehatan mental orang-orang yang mungkin mengetahui donor mereka bukanlah orang yang mereka yakini.
Pengungkapan semacam itu dapat memiliki "dampak signifikan" bagi mereka, kata Nina Barnsley dari organisasi amal di UK, Donor Conception Network.
'Saya tak mau bohong pada anak saya'
BBC telah mewawancarai dua keluarga Britania lainnya yang dirawat Firdevs setelah Beth dan Laura. Mereka pun yakin sudah diberikan donor yang salah.
Mereka menolak membuka identitas, tetapi mereka adalah pasien di Miracle IVF Centre, yang didirikan oleh Firdevs pada 2019.
Kedua keluarga tersebut membutuhkan donor sel telur untuk memiliki anak—dan menduga, sel telur yang mereka terima bukanlah yang mereka pilih. Tes DNA yang dilakukan sejak saat itu tampaknya mengonfirmasi kekhawatiran mereka.
"Saya tidak ingin orang-orang berpikir saya harus memiliki bayi yang mirip dengan saya, bukan itu intinya," kata salah satu perempuan yang kami sebut Kathryn.
"Saya tidak ingin berbohong kepada mereka tentang asal-usul mereka."
Ketika kami memberi tahu Firdevs bahwa kedua keluarga ini merasa telah ditipu, ia mengklaim pemilihan donor sel telur telah "dilakukan sepenuhnya" oleh Miracle IVF Centre.
Dia juga mengatakan, kliniknya tidak memberikan profil donor sel telur yang menggambarkan "orang tertentu" kepada pasien dan tidak pernah memberikan jaminan mengenai identitas donor.
Menurut Firdevs, informasi ini telah dijelaskan dalam formulir persetujuan yang ditandatangani semua pasien sebelum menjalani perawatan, dan telah "dikomunikasikan secara terbuka".

Namun, kedua keluarga yang kami wawancarai ini mengatakan, mereka mengira telah memilih donor tertentu. Mereka mengaku tidak pernah dijelaskan keputusan akhir akan diambil oleh pihak klinik.
BBC telah melihat profil-profil donor sel telur yang diberikan kepada Kathryn dan keluarga lain oleh Miracle IVF Centre. Semuanya tampaknya menampilkan foto-foto perempuan yang berbeda.
Kathryn mengatakan, meskipun mencintai anaknya tanpa syarat, ia tidak akan melanjutkan perawatan bayi tabungnya kalau diberi informasi donor yang salah.
Firdevs mengatakan kepada kami, semua perawatan yang dilakukannya di Miracle IVF sesuai dengan peraturan perundang-undangan - dan ia tidak dapat menjawab semua pertanyaan kami karena alasan kerahasiaan pasien.
'Kami tetaplah keluarga'

Sudah dua tahun berlalu sejak Beth dan Laura memberi tahu anak-anak mereka bahwa Finn mungkin bukanlah ayah kandung mereka.
James masih berusaha menerima kenyataan itu.
"Kamu tidak bisa begitu saja menyebut seseorang sebagai suatu individu, tapi ternyata bukan. Itu tidak baik," katanya. "Identitas adalah hal yang paling penting. Itu adalah jati dirimu sebagai seorang manusia."
Anak-anak kini tahu, mereka tidak memiliki hubungan biologis, tetapi hal itu tidak mengubah cinta yang mereka miliki satu sama lain.
"Kami semua tumbuh bersama dan ibu-ibu kami yang membesarkan kami," kata Kate. "Kami tetap sebuah keluarga meskipun tidak terikat oleh darah."
"Kami memiliki dua anak yang luar biasa," kata Beth dan Laura. "Pada akhirnya, semuanya akan baik-baik saja."
- Rincian mengenai organisasi yang menyediakan informasi dan dukungan terkait masalah fertilitas dapat dilihat di BBC Action Line



























