Puluhan WNI yang dievakuasi dari Iran tiba di Jakarta – 'Sepuluh bom melintas, jendela-jendela di kedutaan bergetar'

Seorang perempuan muda berhijab sedang duduk dengan wajah lesu dan mata terpejam dengan tangan kirinya memegang kepala di tengah banyak orang.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Keterangan gambar, Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Iran menunggu proses pendataan ulang di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (10/3/2026).
Waktu membaca: 7 menit

Sebanyak 22 warga Indonesia yang dievakuasi dari Iran telah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa sore (10/03). Sebagian dari mereka membagikan kesaksian tentang teror bom yang jatuh di Iran sejak AS-Israel meluncurkan serangan pada akhir Februari.

Kelompok 22 orang ini adalah gelombang pertama yang dievakuasi kembali ke Indonesia oleh pemerintah.

Mereka melakukan perjalanan darat berjam-jam dari Iran ke Azerbaijan sebelum terbang ke Jakarta.

Zulfanlindan, yang terjebak di Iran selama 10 hari dan berlindung di Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Teheran, mengatakan situasi di ibu kota sangat mengerikan.

"Sepuluh bom melintas di atas kedutaan, dan meledak hanya satu atau dua kilometer jauhnya, begitu kuat hingga jendela-jendela di kedutaan bergetar," kata pria 69 tahun ini memulai kesaksian.

Seorang WNI perempuan dari Iran dengan pakaian serba tertutup hijab dan masker sedang mendorong sebuah koper di antara kerumunan orang. Ia tampak jalan dengan menunduk.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Keterangan gambar, Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Iran menunggu proses pendataan ulang di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (10/03).

Ribuan warga Iran setiap malam turun ke jalan untuk mengecam dan berduka atas pembunuhan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel, katanya kepada wartawan di Bandara Soetta, seperti dikutip Reuters.

Zulfanlindan mengatakan kelompoknya menunggu lima jam untuk proses imigrasi di Teheran sebelum melakukan perjalanan darat sekitar sembilan jam ke perbatasan Azerbaijan.

Di ibu kota Azerbaijan, Baku, "hanya butuh satu jam sebelum kami langsung masuk ke kota dan check-in di hotel," tambahnya.

Serangan AS dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Teheran di Timur Tengah, telah menyebabkan pembatalan dan penutupan penerbangan yang menahan sejumlah besar warga asing.

Di antaranya 329 warga Indonesia di Iran, sebagian besar adalah mahasiswa di kota Qom.

Muhammad Jawad, yang merupakan mahasiswa di Iran, juga mengatakan, pembunuhan Khamenei disambut dengan kesedihan dan kemarahan yang besar di Teheran.

"Sangat wajar jika rakyat Iran merasa sedih yang mendalam dan terguncang oleh syahidnya dan kepergiannya," kata pemuda tersebut.

'Memastikan keselamatan WNI'

"Kami mengucapkan selamat datang kembali ke Indonesia dan selamat berkumpul bersama keluarga," kata Menteri Luar Negeri Sugiono di bandara.

Dia mengatakan 10 warga Indonesia lainnya akan tiba pada Rabu (11/03), dan 36 orang lainnya telah mendaftar untuk dipulangkan dalam gelombang berikutnya.

Menlu Sugiono juga menambahkan di tengah perkembangan situasi di Iran dan kawasan, prioritas pemerintah Indonesia adalah memastikan keselamatan WNI yang berada di kawasan.

Iran, Kedutaan Iran di Jakarta, Israel, WNI

Sumber gambar, Faisal Ramadhan/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Orang-orang melaksanakan salat untuk almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kediaman Duta Besar Iran di Jakarta, Indonesia, 5 April 2026.

"Sejak konflik berlangsung, Kementerian Luar Negeri bersama Perwakilan RI di Timur Tengah terus berkoordinasi secara erat untuk memantau situasi, melakukan pendataan WNI, serta membahas langkah-langkah kontinjensi," katanya.

Para WNI tersebut selanjutnya akan dibantu Pemerintah Daerah untuk melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing.

Pemerintah Indonesia mengatakan pekan lalu, belum mempertimbangkan evakuasi dari negara-negara Timur Tengah lain. WNI yang tinggal di Timur Tengah diperkirakan mencapai setengah juta jiwa.

Seorang WNI muda berada di tengah kerumunan di Bandara dengan menggunakan sweater dan headset yang menggantung di lehernya. Ia adalah satu dari 22 WNI dari Iran yang dievakuasi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Keterangan gambar, Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Iran menunggu proses pendataan ulang di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (10/3/2026).

Presiden Prabowo Subianto bersedia bertindak sebagai mediator antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain. Namun, ide ini mendapat tantangan dan disebut 'sangat tidak realistis'.

Pada Selasa (10/03), menteri luar negeri Iran mengatakan pembicaraan dengan Amerika Serikat tidak ada dalam agenda, setelah Presiden Donald Trump mengatakan konflik akan berakhir "segera".

Menlu Sugiono dengan menggunakan stelan batik dan berpeci berada di tengah-tengah WNI yang berhasil dipulangkan dari Iran.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Sejak perang meletus pada akhir Februari, belum ada laporan tentang warga Indonesia yang tewas. Namun, tiga awak kapal Indonesia dilaporkan hilang setelah kapal tunda berbendera Uni Emirat Arab tenggelam di Selat Hormuz pada Jumat (06/03).

Seorang korban selamat Indonesia sedang menerima perawatan luka bakar di rumah sakit di kota Khasab, Oman, menurut Kementerian Luar Negeri.

Bagaimana kronologi WNI yang belum ditemukan?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sebanyak tiga warga Indonesia belum diketahui nasibnya setelah kapal tunda (tug boat) yang mereka awaki mengalami ledakan di Selat Hormuz, pada Jumat (06/03).

Kejadian bermula ketika satu perahu tunda bernama Musaffah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA) berlayar di Selat Hormuz antara perairan UEA dan Oman, pada Jumat (06/03) pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

Menurut keterangan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar dan tenggelam.

Kapal itu berawak tujuh orang. Empat ABK (anak buah kapal) berasal dari Indonesia, tiga lainnya dari India dan Filipina.

Akibat ledakan tersebut, tiga ABK asal Indonesia belum diketahui nasibnya. Adapun satu ABK WNI mengalami luka-luka.

Hingga saat ini, pemerintah UEA dan Oman masih melakukan penyelidikan terkait penyebab insiden ini, menurut laporan Kementerian Luar Negeri Indonesia.

"Khusus kondisi awak empat awak WNI, satu WNI selamat sedang mendapat perawatan luka bakar di Rumah Sakit di Kota Khasab, Oman. Sedangkan tiga WNI lainnya masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat.

"Selain empat WNI tersebut, terdapat satu WNI yang berada di lokasi insiden namun berada di kapal yang berbeda dan dalam keadaan selamat," sebut Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, melalui pernyataan tertulis, pada Sabtu (07/03).

Peta Selat Hormuz
Keterangan gambar, Peta Selat Hormuz.

KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat, lanjut Heni, segera berkoordinasi dengan otoritas UEA dan Oman serta pihak perusahaan Safeen Prestige untuk proses pencarian tiga awak WNI yang hilang.

Kedua KBRI kemudian menyampaikan perkembangan penanganan kepada pihak keluarga di Indonesia.

"Kementerian Luar Negeri juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini," kata Heni.

Kepada seluruh WNI di Timur Tengah, termasuk ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal laut, Kementerian Luar Negeri mengimbau untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.

Upaya evakuasi WNI di Iran lewat Azarbaijan

Dalam perkembangan sebelumnya, pemerintah Indonesia mulai mengevakuasi warganya yang tinggal di Iran seiring serangan AS dan Israel yang terus berlanjut terhadap negara itu.

Evakuasi ini akan dilakukan secara bertahap mulai Jumat (06/03).

Pada tahap pertama, sebanyak 32 WNI akan dievakuasi dari Iran pada Jumat (06/03), kata Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah.

Peta selat Hormuz

Mereka akan dievakuasi melalui Azerbaijan, ungkap Heni.

Namun dia menjelaskan, jalur evakuasi ini tergantung kondisi riil di lapangan.

"Dan ini akan ditentukan oleh teman-teman di perwakilan kita di KBRI Teheran dan KBRI Azerbaijan," tambahnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (06/03).

Heni menyatakan Kemlu Indonesia masih mengamati situasi untuk kemungkinan evakuasi tahap berikutnya.

Hal itu akan diputuskan dengan mempertimbangkan berbagai aspek "keamanan yang paling update dan aspek-aspek lainnya."

"Termasuk assessment dari KBRI Teheran sebagai kantor perwakilan Kemlu yang memiliki kemampuan untuk memberikan assessment yang paling lengkap," ungkapnya.

Dia meminta masyarakat dapat memahami situasi di lapangan yang disebutnya "sangat dinamis".

Menurutnya, KBRI Teheran akan terus menjalin komunikasi dan melakukan penjangkauan kepada WNI yang masih berada di Teheran.

KBRI akan tetap beroperasi guna memberikan bantuan dan memenuhi kebutuhan WNI di sana.

Bagaimana nasib WNI di Lebanon?

Menyinggung nasib sekitar 939 WNI yang tinggal di Lebanon, Heni mengatakan pihaknya belum memiliki rencana untuk mengevakuasinya.

Alasannya, mayoritas WNI di Lebanom adalah anggota TNI yang bertugas di sana.

"Ada 939 WNI tapi sebagian besar merupakan personel TNI UNIFIL, dan sampai saat ini belum ada rencana untuk evakuasi," ungkapnya.

Walaupun demikian, menurutnya, perwakilan Kemenlu Indonesia terus memantau kondisi di lapangan, memperbarui rencana kontingensi, serta menyiapkan opsi evakuasi jika diperlukan.

Berita ini akan terus diperbarui.