Bibi buyutku menembak Mussolini tepat di wajahnya

Sumber gambar, Kementerian Dalam Negeri Italia

Keterangan gambar, Violet Gibson mencoba membunuh Benito Mussolini, tapi gagal.
    • Penulis, Jennifer Jones
    • Peranan, BBC Wales
    • Penulis, Trystan ab Ifan
    • Peranan, BBC Wales
  • Waktu membaca: 4 menit

Seratus tahun lalu, Violet Gibson nyaris mengubah jalannya sejarah ketika dia muncul dari kerumunan di Kota Roma dan menembak sosok diktator fasis Italia, Benito Mussolini.

Peluru itu hanya menggores hidung sang pemimpin Italia, dan ketika Violet mencoba melepaskan tembakan kedua, senjatanya macet.

Dia diselamatkan dari amukan massa oleh polisi, "karena para pendukung Mussolini mungkin akan membunuhnya," kata Philippa Gibson, keponakan buyut Violet.

Violet kemudian dipenjara di Italia sebelum akhirnya dideportasi ke Inggris, tempat dia ditahan di sebuah institusi psikiatri di Northampton hingga meninggal pada 1956.

Dari empat upaya pembunuhan terhadap Il Duce (sang pemimpin)—sebutan yang merujuk pada Benito Mussolini—Violet Gibson adalah yang paling mendekati keberhasilan.

Philippa, yang berasal dari Llangrannog di Ceredigion, Wales, mengatakan bibi buyutnya berasal dari keluarga yang sangat kaya dan berpengaruh secara politik.

Ayah Violet adalah bangsawan Anglo-Irlandia, Baron Ashbourne, yang menjabat sebagai Lord Chancellor of Ireland—posisi hukum tertinggi di negara itu pada masanya.

Menurut Philippa, Violet memiliki "masa kecil yang khas bagi seseorang dengan usia dan status seperti itu", namun dia kemudian memberontak terhadap keluarganya dengan berpindah keyakinan menjadi Katolik dan memilih jalan sebagai seorang sosialis.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mussolini difoto dengan perban di hidungnya setelah kasus penembakan.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Philippa berujar: "Keluarga sama sekali tidak senang, tetapi mereka memiliki pendekatan yang lebih lunak terhadap Violet, sebagian karena… dia memiliki masalah kesehatan mental, namun dia juga seorang perempuan yang sangat cerdas."

Violet akhirnya pergi ke Italia, belajar bahasa, dan "melakukan banyak pekerjaan yang menjanjikan," tambah keponakan buyutnya.

"Itu masa di mana orang-orang kaya memberikan sedekah kepada kaum melarat."

Tapi, Violet mengalami periode gangguan mental yang parah.

Dia mengalami gangguan jiwa setelah kematian mendadak tunangannya; dipenjara karena serangan dengan pisau; dan pernah mencoba mengakhiri hidupnya, jelas Philippa.

Tentang upaya pembunuhan Mussolini, Philippa menjelaskan:

"Saya pikir dia melihat fasisme Mussolini berkembang, dengan kekejaman dan kekerasan yang luar biasa. Pemimpin sosialis [Giacomo Matteotti] telah dibunuh oleh massa fasis, dan itu salah satu hal yang mendorongnya melakukannya".

"Jadi, sebagian karena motivasi politik dan sebagian karena motivasi iman— mengorbankan dirinya demi sebuah tujuan penting".

Keterangan gambar, Phillipa mengatakan bahwa meskipun dia mengagumi bibi buyutnya, dia tidak mendukung kekerasan politik.

Pada 7 April 1926, tiga tahun setelah Mussolini berkuasa, Violet Gibson melakukan upaya pembunuhan terhadapnya.

Philippa menjelaskan: "Saat itu usianya baru 50 tahun, tetapi dia tampak jauh lebih tua dan tidak ada yang memperhatikan seorang nenek kecil yang mengeluarkan pistol begitu dekat dengannya. Jarak mereka hanya beberapa meter, tetapi rupanya Mussolini menolehkan kepala dan peluru itu hanya menggores hidungnya."

Baca juga:

Philippa mengatakan bahwa pemerintah Inggris dan keluarga Violet menulis surat kepada Mussolini setelah serangan itu.

Mereka berterima kasih dan bersyukur setelah dia selamat dari aksi penembakan itu.

Dalam surat itu, mereka bersama-sama memberitahu tentang ketidakstabilan mental Violet.

"Mussolini juga menyoroti hal itu [ketidakstabilan mental] karena dia tidak ingin terlihat bahwa seorang lawan politik bisa sedekat itu dengannya. Ada beberapa upaya pembunuhan terhadapnya, dan dia berhasil selamat dari semuanya".

"Semua itu membentuk persepsi bahwa dia tak terkalahkan, dilindungi oleh Tuhan, memiliki misi, dan itulah tujuan keberadaannya… jadi saya pikir [upaya pembunuhan] itu justru berbalik arah, kontraproduktif," jelas Philippa.

Mussolini akhirnya dieksekusi setelah ditangkap oleh pasukan partisan Italia pada 1945, ketika dia berusaha melarikan diri dari serangan Sekutu.

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar, Pada 2022, sebuah plakat diresmikan di Dublin untuk mengenang kehidupan Violet Gibson.

Kehidupan Violet Gibson telah menginspirasi lagu, buku, sebuah drama panggung, dokumenter radio, serta film yang dirilis pada 2021 berjudul Violet Gibson: the Irish woman who shot Mussolini.

Philippa mengatakan bahwa meski dia mengagumi bibi buyutnya, dia tidak mendukung kekerasan politik.

"Saya jelas tidak akan mendukung bentuk kekerasan politik apa pun, itu bukan jawabannya," ujarnya.

"Namun saya merasa keyakinan mendalam Violet lah yang mendorongnya melakukan itu. Jadi, saya mengagumi keberaniannya, kesediaannya untuk menyerahkan diri demi apa yang dia yakini, tetapi saya tidak akan membenarkan upaya pembunuhan politik dalam bentuk apa pun."