Kisah mantan staf IT yang meninggalkan profesinya untuk menjadi petani
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
- Penulis, Rangga Firmansyah
- Peranan, Wartawan di Bogor, Jawa Barat
- Waktu membaca: 4 menit
Ancaman krisis pangan dan energi telah mengemuka beberapa tahun terakhir, namun kian santer diperbincangkan akhir-akhir ini sebagai imbas perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Sebagian masyarakat sudah mulai menerapkan langkah mitigasi dengan melakoni pertanian terintegrasi (integrated farming).
Salah satunya, Dewi Apriyani, mantan staf informasi teknologi (IT) di sebuah perusahaan swasta. Setelah delapan tahun bekerja, dia memilih mengundurkan diri untuk menjalankan pertanian terintegrasi.
"Manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa pangan," ucap Dewi saat menuturkan alasannya menjadi petani kepada wartawan Rangga Firmansyah yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
Dewi mengaku secara sadar melepaskan status sebagai pegawai dan menjadi petani karena melihat kebutuhan primer manusia, yaitu pangan. Dia juga menegaskan dirinya bukan orang kaya karena memilih laju kehidupan yang lamban atau slow living.
"Slow living itu lebih ke pilihan gaya hidup yang sadar, terarah, dan enggak reaktif sama tekanan sosial, bukan soal saldo rekening. Enggak harus kaya dulu baru bisa slow living," ujarnya saat ditemui di kediamannya di Cibinong, Bogor, beberapa waktu lalu.
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
Perempuan itu memulai pertanian terintegrasi di lahan seluas 250 meter tepat di samping rumah.
Sistem pertanian tersebut menggabungkan tanaman, peternakan, dan perikanan dalam satu lokasi secara berkelanjutan. Konsep ini memanfaatkan limbah satu komoditas sebagai pakan bagi komoditas lain.
"Integrated farming itu bagaimana suatu peternakan dan juga pertanian atau perkebunan, saling berkesinambungan. Jadi dari limbah kotoran hewan seperti contohnya ayam, bisa dimanfaatkan dan juga jadi nutrisi tanaman," ujar Dewi.
"Kemudian limbah dari tanaman itu bisa diolah lagi dan bisa dijadikan untuk tambahan pakan ternak. Jadi antara entitas hewan ternak dengan entitas tanaman, mereka itu saling membutuhkan digabungkan menjadi suatu siklus," sambungnya.
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
Dewi mengklaim pertanian terintegrasi menjadi solusi membangun ketahanan pangan mandiri di masa depan. Sebab metode ini tidak perlu membabat hutan atau lahan, justu menciptakan lahan dan membuat hutan.
"Yang ada di rumah itu bukan sayuran aja. Seperti contohnya ada bunga zinnia, bunga mawar. Secara tidak langsung kupu-kupu, capung itu masuk semua ke sini. Salah satu indikator bahwa ekosistem kita berhasil dengan adanya serangga-serangga dan hewan-hewan liar yang lain," ucap Dewi.
Dewi melanjutkan, dirinya menanam dengan mengandalkan pupuk kandang dan kompos untuk meningkatkan struktur tanah serta meningkatkan mikroorganisme tanah tanpa pupuk kimia.
Unsur hara yang diperlukan tanaman untuk tumbuh, berkembang, dan bereproduksi disuplai secara lambat sehingga meningkatkan kesuburan tanah jangka panjang.
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
Tekad menjaga ketahanan pangan tanpa merugikan alam juga ditempuh Egar. Dia meninggalkan profesi sebagai musisi untuk menjadi pegiat permakultur.
Baginya, sistem ini dipilih karena lebih meniru ekosistem alami.
Egar merancang sebuah lanskap yang menirukan pola dan interaksi di alam, sembari menghasilkan makanan, serat, dan energi untuk kebutuhannya. Karena itu, dia tidak hanya fokus pada hasil panen.
"Permakultur bukan sekadar teknik berkebun melainkan desain kehidupan yang lestari," ujarnya.
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
Di lahan 100 meter, Egar memulai sistem permakulutur dengan menanam berbagai tanaman seperti, terong, cabe rawit, tomat, kangkung dan beragam tanaman pangan lainnya. Untuk memenuhi konsumsi protein, Egar bertenak ayam.
"Disini juga ada lebah trigona. Tugas lebah untuk mencari nektar, membantu penyerbukan agar tanaman bisa berbuah, lalu pulang membuat dan menyimpan madu sehingga kebun tetap hidup, subur, dan seimbang," jelasnya.
Sumber gambar, Rangga Firmansyah
Hal senada diutarakan Melvin. Dia meninggalkan profesinya sebagai pilot untuk berfokus pada sistem permakultur.
"Kita berusaha memenuhi pangan kita sendiri. Jadi tidak ketergantungan terhadap pasar," pungkas Melvin.
Wartawan di Bogor, Rangga Firmansyah, berkontribusi untuk artikel ini.
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia