Operasi penyelamatan awak pesawat F-15 yang jatuh di Iran – Dari puluhan pesawat tempur hingga anggota CIA
Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Gabriela Pomeroy
- Waktu membaca: 6 menit
Militer Amerika Serikat mengklaim telah menyelamatkan seorang awak pesawat tempur yang ditembak jatuh di Iran. Operasi untuk mengevakuasi awak tersebut disebut-sebut sangat rumit.
Puluhan anggota pasukan khusus, pesawat tempur, helikopter AS, hingga anggota CIA dikerahkan dalam operasi penyelamatan tersebut, demikian dilaporkan media AS.
Pada Minggu (05/04), Presiden AS Donald Trump mengatakan di media sosial: "Kami telah menyelamatkan awak F‑15 yang mengalami luka serius dan sangat berani, di dalam pegunungan Iran."
Insiden bermula pada Jumat (03/04), ketika pesawat jet F‑15, yang membawa seorang perwira sistem persenjataan dan seorang pilot, ditembak jatuh di Iran selatan. Ini pertama kalinya pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh pasukan musuh dalam lebih dari 20 tahun.
Dua personel militer AS di dalam F‑15E Strike Eagle tersebut berhasil melontarkan diri dari pesawat. Pilotnya diselamatkan pada hari yang sama, tetapi awak kedua dinyatakan hilang.
Sumber gambar, Reuters
AS dan Iran kemudian saling berlomba menemukan awak tersebut.
Iran menegaskan ingin menangkapnya hidup‑hidup dan menawarkan hadiah sebesar £50.000 (Rp1,1 miliar). Video yang dibagikan di media sosial, yang belum diverifikasi oleh BBC, menunjukkan warga sipil bersenjata mencarinya.
Setelah awak tersebut berada di darat, ia hanya memiliki sebuah pistol untuk mempertahankan diri, kata para pejabat AS.
Menurut militer AS, sang awak telah menerima pelatihan untuk menghadapi situasi seperti ini, yang meliputi menyalakan sinyal penanda, menuju ke tempat yang lebih tinggi, menyembunyikan diri, dan membangun komunikasi.
Berdasarkan laporan media AS, awak itu bersembunyi di sebuah celah pegunungan dan membatasi penggunaan penanda karena khawatir sinyal tersebut dapat dideteksi oleh Iran. Dia dilaporkan menunggu regu penyelamat tiba.
Sumber gambar, Getty Images
CIA memainkan peran penting dalam operasi penyelamatan, menurut seorang pejabat senior pemerintahan Trump yang berbicara kepada media AS.
Badan intelijen AS itulah yang melacak lokasi persis awak tersebut hingga ke celah pegunungan dan menyampaikan informasi kepada Pentagon.
Trump mengatakan lokasi sang awak dipantau "24 jam sehari" oleh para pejabat AS yang merencanakan operasi penyelamatan. Dia "diburu oleh musuh‑musuh kami, yang dari jam ke jam semakin dekat", tambah Presiden Trump.
CIA juga menjalankan taktik mengecoh musuh, menurut laporan AS, dengan menyebarkan kabar di dalam Iran bahwa pasukan AS telah menemukan awak kedua.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Presiden Trump mengatakan dalam unggahan di Truth Social bahwa militer AS "mengirim puluhan pesawat, dipersenjatai dengan senjata paling mematikan di dunia, untuk menjemputnya".
Ketika pasukan khusus AS bergerak menuju awak yang terdampar, bom dan tembakan senjata digunakan untuk menjauhkan pasukan Iran dari lokasinya, demikian laporan AS.
Media AS juga melaporkan bahwa dua pesawat angkut untuk menerbangkan regu penyelamat tidak dapat lepas landas dari sebuah pangkalan terpencil di wilayah Iran. Dua pesawat itu lalu dihancurkan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Pasukan khusus kemudian terbang menggunakan tiga pesawat tambahan untuk menjemput kru tersebut, tambah laporan itu.
Rekaman dan foto yang dikonfirmasi oleh BBC Verify menunjukkan bangkai pesawat yang masih berasap di daerah pegunungan Iran bagian tengah, sekitar 50 km sebelah tenggara kota Isfahan.
Militer Iran mengatakan dua pesawat angkut militer AS C‑130 dan dua helikopter Black Hawk dihancurkan selama operasi tersebut—dan "sebuah misi pengelabuan dan pelarian di sebuah bandara yang ditinggalkan di selatan Isfahan… berhasil digagalkan sepenuhnya".
Media pemerintah Iran mengatakan pada Minggu (05/04) bahwa pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menembak jatuh sebuah drone AS di Isfahan ketika drone itu sedang mencari awak yang hilang. BBC belum dapat mengonfirmasi kedua versi peristiwa di dekat Isfahan tersebut.
Sebelum tengah malam waktu AS, operasi penyelamatan selesai dan sang awak diterbangkan ke Kuwait untuk menjalani perawatan medis, kata para pejabat AS.
Trump mengatakan perwira tersebut "mengalami luka serius", tetapi "dia akan baik‑baik saja".
Pemerintah AS belum mengungkapkan informasi apa pun tentang lokasi persis awak tersebut saat diselamatkan, atau identitasnya.
Mantan pejabat militer AS William Fallon—laksamana purnawirawan Angkatan Laut AS—mengatakan kepada BBC bahwa "waktu dalam sehari" kemungkinan besar menguntungkan misi penyelamatan.
"Kegelapan lebih baik bagi orang‑orang kami karena mereka terbiasa beroperasi pada malam hari."
Fallon mengatakan bahwa ketika terbang di atas wilayah musuh, "Anda harus siap menjadi orang yang terkena".
Sesaat sebelum pukul 00:00 EDT (04:00 GMT) atau pada Minggu (05/04) pukul 11.00 WIB, media AS memberitakan bahwa awak kedua telah ditemukan.
Trump menulis di media sosial bahwa AS "TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN SEORANG PEJUANG PERANG AMERIKA!"
Iran berkeras bahwa operasi tersebut merupakan kegagalan.
Ebrahim Zolfaghari, juru bicara komando militer utama Iran, mengatakan dalam sebuah video bahwa beberapa pesawat militer AS terpaksa melakukan pendaratan darurat.
"Presiden yang bodoh itu, terjebak dalam rawa perang dan agresi yang ia mulai sendiri… sepenuhnya menyadari bahwa setiap agresi, operasi darat, atau infiltrasi… akan menghadapi kekalahan yang menentukan dan memalukan," katanya.
Retorika tentang misi "gagal" ini juga diulang oleh para pejabat Iran dan stasiun televisi pemerintah, terutama sejak Donald Trump mengumumkan bahwa pilot tersebut telah diselamatkan.
Sebagian analis AS menggambarkan hilangnya sebuah F‑15E di dalam wilayah Iran, yang diikuti oleh penghancuran beberapa pesawat penyelamat, menunjukkan keterbatasan kekuatan udara AS.
Jenderal Frank McKenzie, mantan komandan Komando Pusat AS, mengatakan kepada CBS selaku mitra BBC di AS, bahwa "kami memang kehilangan beberapa pesawat dalam misi itu". Namun, menurutnya, kerugian tersebut akan diterima "kapan pun" dalam situasi seperti ini.
"Membangun sebuah pesawat memerlukan waktu satu tahun—membangun tradisi militer yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang memerlukan waktu 200 tahun," katanya kepada program Face The Nation di CBS.
Reportase tambahan oleh Ghoncheh Habibiazad, BBC Persian.
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia