Italia gagal lolos Piala Dunia tiga kali beruntun – Bagaimana bisa sampai di titik ini?

Waktu membaca: 5 menit

Italia, juara dunia empat kali, gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah kalah melalui adu penalti dari Bosnia-Herzegovina.

Italia meraih status sebagai satu-satunya juara Piala Dunia yang absen dalam tiga perhelatan berturut-turut, setelah gagal mencapai putaran final di Rusia pada 2018 dan di Qatar pada 2022.

Sebaliknya, Bosnia-Herzegovina lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah. Dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 mendatang, mereka akan menghadapi Kanada, Qatar, dan Swiss di Grup B.

Malam suram nan menyakitkan

Akhir laga menghadapi Bosnia-Herzegovina di Stadion Bilino Polje. Kota Zenica, adalah malam yang suram bagi sepak bola Italia.

Manajer timnas Italia, Gennaro Gattuso, berlinang air mata saat peluit akhir pertandingan ditiup wasit.

Dia menegaskan masa depannya "tidak penting", setelah kepala Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah meminta Gattuso untuk bertahan.

Gattuso berkata: "Ini menyakitkan untuk seluruh Italia dan untuk pergerakan sepak bola kami. Pukulan yang sulit dicerna.

"Saya rela menyerahkan bertahun-tahun hidup saya, uang, agar kami bisa mencapai tujuan kami."

Gravina menegaskan ia tidak akan mundur, tetapi mengakui bahwa sepak bola Italia kini telah mencapai "krisis yang mendalam".

"Anak-anak Italia akan menyaksikan satu Piala Dunia lagi tanpa Italia," kata pemain sayap, Leonardo Spinazzola, dengan berlinang air mata.

"Saya masih tidak percaya kami tersingkir seperti ini, setelah bermain dengan 10 orang. Dengan kegigihan, kami membawanya ke adu penalti, kami seharusnya bisa mencetak tiga atau empat gol dan ini benar-benar kekecewaan besar bagi semua orang."

Mengapa Italia tidak lolos Piala Dunia 2026?

Sejak menjuarai Piala Dunia untuk keempat kalinya pada 2006, Italia tampil sangat mengecewakan dalam sejumlah laga. Terbukti negara itu gagal lolos dari fase grup pada Piala Dunia 2010 dan 2014.

Italia kemudian gagal mencapai putaran final di Rusia pada 2018.

Meski mengalahkan Inggris pada laga final Euro 2020, tetapi hal itu tampak seperti pengecualian. Sebab, semenjak perhelatan itu, Italia terus mengalami kesulitan di panggung internasional.

Dua tahun berikutnya Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia saat diselenggarakan di Qatar.

Tim berjuluk Gli Azzurri itu kemudian berpartisipasi pada Piala Eropa 2024, namun mereka kandas di babak 16 besar.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2026, manajer timnas Italia, Luciano Spalletti, dipecat setelah menderita kekalahan 3-0 dari Norwegia pada Juni 2025.

Gattuso—yang menjadi pemain tim utama saat Italia terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 2006—menggantikan posisi Spaletti sebagai manajer.

Meski ada keraguan publik terhadap Gattuso, ia mampu mengarahkan para pemain timnas Italia untuk meraih lima kemenangan berturut-turut, dua kali melawan Estonia dan Israel serta satu kemenangan atas Moldova.

Namun, akibat kekalahan 1-4 dari Norwegia, timnas Italia dipastikan finis di posisi kedua dan harus menjalani play-off.

Di babak play-off, Gianluigi Donnarumma dkk gagal meredam perlawanan Bosnia-Herzegovina.

Mengapa sepak bola Italia terpuruk?

Ketika Italia mengalahkan Prancis di final 2006, mereka disebut-sebut sebagai tim terhebat dalam sejarah negara tersebut.

Fondasi kesuksesan itu telah diletakkan satu dekade sebelumnya, ketika tim Italia U-21 asuhan Cesare Maldini menjuarai tiga Kejuaraan Eropa berturut-turut antara 1992 dan 1996.

Kedalaman talenta saat itu dibantu oleh aturan di Serie A yang melarang setiap klub menurunkan lebih dari tiga pemain non-Eropa di lapangan pada satu waktu.

Namun, semuanya berubah pada 1995 ketika putusan Bosman—sebuah kasus yang memperjuangkan peningkatan hak pemain Eropa. Hal ini secara signifikan mengubah lanskap sepak bola di Eropa, termasuk Italia.

Arus masuk pemain asing ke Serie A menjelang tahun 2000 tak terhindari, yang membuat pemain muda Italia semakin sulit mendapatkan kesempatan bermain di tim utama klub-klub besar di negara mereka sendiri.

Pakar sepak bola Eropa, Julien Laurens, mengatakan kepada BBC Sport: "Akademi-akademi di Italia tidak menghasilkan cukup banyak pemain, atau pemain yang siap bermain di tim utama. Cara mereka membelanjakan uang juga bukan seperti yang biasa kita lihat dari klub-klub Italia."

Masalah keuangan dan stadion

Tidak satu pun klub besar Italia berada di 10 besar dalam daftar Deloitte mengenai klub dengan pendapatan tertinggi di dunia.

Di sisi lain, klub-klub Liga Primer diuntungkan oleh kesepakatan hak siar TV yang terus meningkat, sementara liga-liga Eropa lainnya menarik investasi besar.

Banyak klub Italia juga gagal memodernisasi stadion mereka, yang berdampak pada pendapatan komersial.

Beberapa klub papan atas Serie A telah melaporkan kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir, yang menghambat investasi mereka di masa depan.

Mantan penyerang Italia Del Piero mengatakan kepada CBS sebelum play-off Piala Dunia: "Masalah? Stadion. Kami tahu kami harus tampil lebih baik di luar lapangan untuk memperbaikinya. Sistem pembinaan usia muda juga."

Terasa masih banyak yang harus dibenahi agar Italia bisa kembali ke posisi mereka sebelumnya di panggung internasional.

Penulis sepak bola Italia Emmet Gates mengatakan kepada BBC Sport bahwa Gli Azzurri "terluka secara mental" akibat kekalahan play-off melawan Swedia dan Makedonia Utara dalam satu dekade terakhir.

Kini mereka bisa menambahkan kekalahan dari Bosnia-Herzegovina ke dalam daftar itu.