Apakah larangan penggunaan ponsel di sekolah‑sekolah Belanda berdampak positif bagi para murid?
Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Anna Holligan
- Melaporkan dari, Amsterdam
- Waktu membaca: 5 menit
Dua tahun lalu, sekolah‑sekolah di Belanda melarang para murid menggunakan ponsel pintar untuk mengurangi gangguan, meningkatkan konsentrasi, dan mendorong peningkatan prestasi akademis. Sejak itu, ponsel, jam tangan pintar dan tablet dilarang di ruang kelas, koridor, dan kantin sekolah di seluruh Belanda.
Kini pemerintah Belanda ingin melangkah lebih jauh, yaitu mendorong pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dan menyerukan batas usia minimum 15 tahun di seluruh Uni Eropa untuk aplikasi seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat.
Di Sekolah Cygnus Gymnasium di Amsterdam, sebuah papan kuning menyala di gerbang sekolah memperingatkan para murid yang masuk dengan sepeda mereka: "Perhatian: mulai titik ini, ponselmu harus berada di loker. Terima kasih."
Slogan dalam bahasa Belanda: "Telefoon t'huis of in de kluis" (Ponsel di rumah atau di loker) kini berlaku secara nasional.
Alih‑alih membuat undang‑undang, pemerintah memilih kesepakatan nasional dengan sekolah, orang tua dan guru.
Alasannya, cara ini akan mendapatkan dukungan dan aturan bisa diberlakukan dengan cepat tanpa perdebatan panjang di parlemen.
Di luar ruang kelas Bahasa Inggris yang didekorasi dengan karya seni bertema drama Shakespeare, dua pelajar bernama Hena dan Fena mengaku perasaan mereka campur aduk soal larangan tersebut.
"Sejak larangan berlaku, kami harus berhati‑hati terhadap guru agar ponsel kami tidak disita," kata mereka.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
"Saya rasa ini menyebalkan tapi bukan berarti hak kami dilanggar atau semacamnya. Mungkin sekarang kami sedikit lebih memperhatikan. Saat istirahat, tidak ada yang benar‑benar bermain ponsel," tambah mereka.
Guru mereka, Ida Peters, juga merasakan perbedaannya.
"Sebagai guru, saya selalu mencoba menarik perhatian murid. Selalu menantang untuk mendapatkan fokus di kelas, dan kini karena ponsel mereka lebih jarang terlihat, itu jelas membantu."
Baca juga:
Di Kerajaan Bersatu (UK), ponsel pintar juga tidak boleh digunakan di ruang kelas. Namun, tanpa aturan nasional mengenai penggunaan ponsel, sekolah dan guru dibiarkan berimprovisasi.
Di Belanda, adanya kesepakatan nasional berarti tanggung jawab tidak lagi sepenuhnya berada di guru. Peters merasa pendekatan Belanda ini membebaskan staf.
"Ada lebih sedikit gesekan dalam manajemen kelas," katanya.
"Di sekolah dulu sering ada pemeriksaan ponsel; sekarang suasananya lebih santai, lebih tenang, tidak terlalu khawatir."
Peters menambahkan bahwa ponsel juga tidak diperbolehkan saat istirahat atau pesta sekolah, sehingga murid tidak khawatir akan difoto dan diunggah ke Snapchat atau Instagram.
"Dan ketika anak‑anak lebih rileks, hasil belajar mereka meningkat."
Data awal mendukung pengamatannya.
Studi pemerintah terhadap 317 sekolah menengah menemukan sekitar tiga perempat responden melaporkan peningkatan konsentrasi sejak ponsel dilarang.
Hampir dua pertiga mengatakan iklim sosial membaik, dan sekitar sepertiga melihat peningkatan prestasi akademis.
Survei lain menunjukkan penurunan perundungan ketika perangkat tidak digunakan sepanjang hari sekolah.
Felix dan Karel, 15 tahun, menghabiskan waktu antara dua hingga lima jam sehari di media sosial.
Karel mengisi daya ponselnya di samping tempat tidur dan memeriksa pesan segera setelah bangun; Felix menunggu hingga setelah sarapan.
"Ketika pertama kali mendengar berita itu, saya pikir, 'Saya ingin pindah sekolah karena ini bukan yang saya inginkan,'" ujar salah satu dari mereka.
"Tapi saya tidak benar‑benar merasakan sisi negatifnya. Jika ini terjadi di UK, saya rasa dampaknya akan positif bagi murid."
Di Belanda, perdebatan kini beralih ke media sosial.
Pemerintah secara resmi menyarankan agar anak di bawah 15 tahun tidak menggunakan media sosial. Kemudian, koalisi pemerintahan yang baru menginginkan batas usia minimum 15+ di tingkat Eropa yang dapat ditegakkan dan didukung verifikasi usia.
Mereka berargumen bahwa jika negara dapat membatasi alkohol atau perjudian, mereka juga harus bertindak ketika platform media sosial dirancang agar membuat kecanduan.
Tiga partai dalam pemerintahan hanya memiliki 66 dari 150 kursi di parlemen, sehingga mereka membutuhkan dukungan partai lain. Lalu aturan wajib mengenai akses anak ke media sosial harus dinegosiasikan di tingkat Uni Eropa.
Namun opini publik tampaknya bergeser mendukung mereka.
Survei Unicef terhadap lebih dari 1.000 anak dan remaja Belanda menemukan bahwa 69% mendukung pelarangan media sosial untuk anak di bawah 18 tahun.
Dalam survei yang sama, 28% mengatakan platform harus sepenuhnya dilarang bagi anak di bawah 12 tahun, dengan alasan bahwa anak‑anak kecil "seharusnya masih bermain di luar, bukan bermain ponsel". Laporan survei itu menyebut media sosial sebagai adiktif, tidak aman, dan buruk bagi kesehatan mental.
Survei tahunan media sosial oleh lembaga riset Newcom menemukan bahwa 60% anak usia 16 hingga 28 tahun mendukung pembatasan usia, naik dari 44% tahun sebelumnya. Ini menantang anggapan bahwa anak muda sangat ingin selalu berada di internet.
Mantan menteri pendidikan, Koen Becking, menyoroti "bukti yang terus bertambah" bahwa penggunaan media sosial secara intens berdampak buruk pada kesehatan mental dan interaksi sosial. Dia mengatakan data Belanda menunjukkan anak‑anak lebih mudah terdistraksi dan lebih cemas ketika mereka memiliki akses ke perangkat.
Di Sekolah Cygnus, Karel mengatakan ia akan "sedikit hancur" jika larangan media sosial diberlakukan.
"Saya agak kecanduan, saya langsung membuka TikTok saat bangun atau memeriksa pesan dari teman."
Namun Felix lebih santai: "Saya akan terbiasa dan menemukan hal lain untuk dilakukan, jadi saya rasa saya tidak akan terlalu keberatan."
Pada saat yang sama, Dewan Riset Belanda kini meneliti konsekuensi yang tidak diinginkan dari larangan ponsel, dan apakah tidak memiliki ponsel sepanjang hari meningkatkan fear of missing out dan memicu penggunaan ponsel yang lebih intens setelah sekolah.
Para murid berkeras mereka tidak lebih banyak bermain ponsel sebelum atau setelah sekolah. Namun, Felix mengaku bahwa meskipun banyak murid masih menyimpan ponsel di saku—selama guru tidak melihat—ia percaya bahwa menjauhkan layar dari pandangan membuat mereka lebih fokus belajar.
"Orang‑orang lebih banyak berbicara, pergi ke toko daripada hanya duduk di kantin bermain ponsel," katanya.
"Kami lebih banyak bersosialisasi; hubungan sosial meningkat."
Bagi anak‑anak Belanda, mengetuk layar ponsel pintar bukan lagi bagian dari kehidupan sekolah.
Pertanyaan berikutnya bagi Belanda, dan mungkin bagi negara lain, adalah apakah akses ke aplikasi media sosial juga harus menjadi bagian dari masa lalu.
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia