|
Bos Lion Air ingin terbangkan banyak orang
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pemilik Lion Air, Rusdi Kirana mengatakan dirinya ingin agar lebih banyak rakyat Indonesia bisa naik pesawat dengan harga
tiket terjangkau.
Dia mempertanyakan kenapa di jaman dulu harga tiket begitu mahal padahal selisih antara kurs mata uang rupiah sebagai sumber pendapatan dan dolar Amerika untuk pengeluaraan, lebih kecil. "Kenapa kita jual murah sekarang ini dikatakan murah. Kalau menurut saya, apa yang kita jual ini tidak dikategorikan murah, tapi kita anggap wajar," kata Rusdi Kirana dalam wawancara dengan BBC. Dia mengatakan dirinya sejak dulu memang berniat untuk membuat orang mampu naik pesawat.
"Kita terjun di biro perjalanan dan menjadi agen perusahaan penerbangan di Indonesia maupun di luar Indonesia, kita lihat kenapa harga tiket kok begitu mahal," kata Rusdi Kirana dalam wawancara dengan BBC.
Faktor lain yang mendorongnya untuk mendirikan maskapai penerbangan adalah potensi pasar. "Maka kita melihat kalau saya bisa membuat airlines yang bisa jual lebih murah, saya percaya market itu akan naik". Rusdi mengatakan asumsi tersebut terbukti dengan bertambahnya jumlah penumpang pesawat terbang di Indonesia dari angka kurang dari lima juta pada tahun 2000 menjadi total saat ini 36 juta orang per tahun. Kecelakaan fatal Banyak kabar miring santer menerpa industri penerbangan murah Indonesia. Kecelakaan demi kecelakaan membuat orang mempertanyakan standar keselamatan maskapai murah meriah.
Bahkan, Juli lalu Uni Eropa memutuskan memboikot pesawat Indonesia tanpa kecuali. Sejauh ini Lion Air memesan 122 buah pesawat 737900 ER yang menjadikannya sebagai pemesan dan pengguna terbanyak dari jenis pesawat tersebut di dunia. Bagaimanapun, maskapai ini dalam sejarahnya pernah mengalami kecelakaan fatal. Penerbangan Lion Air jurusan Jakarta-Solo dengan pesawat jenis MD-82 PK-LMN tergelincir di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah pada tanggal 30 November 2004. Sebanyak 25 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Bulan Mei 2005, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan dengan tujuan Jakarta-Manado mengalami pecah ban saat mendarat untuk transit di Bandara Hasanuddin, Makassar. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun sejumlah penerbangan terganggu. Maret 2006, pesawat MD-82 Lion Air jurusan Denpasar-Surabaya keluar dari ujung landasan sekitar 30 meter. Lion Air didirikan tanggal 30 Juni 2000 dengan penerbangan perdana Jakarta-Pontianak. Penerbangan tersebut menggunakan pesawat B 737 200. Lion Air dengan nama perusahaan PT Lion Mentari Air didirikan oleh dua bersaudara Rusdi Kirana dan Kusnan Kirana. Saat ini maskapai itu memiliki 37 buah pesawat dari berbagai tipe MD 82-83, MD 90, Boeing 737 300, Boeing 737 400 dan Boeing 737 900 ER. Penuturan dan kisah Rusdi Kirana telah disiarkan dalam acara Tokoh BBC Siaran Indonesia, Minggu, 25 November 2007, pukul 05.30 Wib. Tanggapan pendengar Wawancara Tokoh ini mengundang berbagai komentar pendengar, namun karena keterbatasan ruang, BBB tidak bisa memuat semua tanggapan yang masuk. "Kalau saya cermati, Lion Air termasuk maskapai yang sering membuat konsumen kecewa dan kerap mengalami kecelakaan" "Lion sebagai maskapai pesawat terbang yang menyajikan tiket murah. Hendaknya menyentuh kalangan dunia pendidikan". "Murah boleh saja tapi keamanan dan pelayanan harus lebih baik" "Transportasi udara penting sarana tour cepat dan harus aman, ekonomis tepat waktu, layanan baik dalam segala hal"
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||