Israel lancarkan serangan udara 'terbesar' di Lebanon, 182 orang meninggal dunia – Iran ancam balas
Sumber gambar, AFP via Getty Images
- Penulis, Hugo Bachega
- Peranan, Middle East correspondent
- Melaporkan dari, Beirut
- Waktu membaca: 5 menit
Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon yang menewaskan dan melukai ratusan orang, Rabu (08/04). Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup kelompok Hizbullah di Lebanon.
Militer Israel (IDF) menyebut gempuran terkini ke Lebanon sebagai gelombang serangan udara terbesar ke negara itu. IDF mengklaim telah menyerang lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah dalam waktu 10 menit.
Pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa di bagian timur menjadi sasaran.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan sedikitnya 182 orang meninggal dunia dan 890 orang luka-luka.
Jumlah itu menambah daftar korban meninggal sejak Israel melancarkan serangan ke Lebanon, enam pekan lalu. Sebelumnya, sebanyak 1.700 orang meninggal dunia, termasuk 130 anak-anak, di negara tersebut, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Iran ancam membalas
Sumber gambar, EPA
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan akan menyampaikan "respons yang menimbulkan penyesalan" jika serangan terhadap Lebanon tidak segera dihentikan, demikian dilaporkan lembaga penyiaran negara Iran, IRIB.
Dalam pesan yang diunggah melalui Telegram, IRIB menyatakan: "Kami menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat yang ingkar janji dan mitra Zionisnya dalam pembantaian.
"Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera dihentikan, kami akan menunaikan kewajiban kami dan melancarkan respons yang menimbulkan penyesalan bagi para agresor jahat di kawasan."
Baca juga:
Sementara itu, kantor berita pemerintah IRNA mengutip seorang pejabat IRGC yang mengatakan, "Setiap serangan terhadap Hizbullah yang bermartabat adalah serangan terhadap Iran. Medan [militer] tengah bersiap untuk memberikan respons keras atas kejahatan brutal rezim [Israel]."
Dalam salah satu butir syarat gencatan senjata yang diajukan Iran, penghentian total perang di Lebanon termasuk di antaranya.
Lebanon tidak termasuk kesepakatan gencatan senjata, kata AS dan Israel
Sumber gambar, Houssam Shbaro/Anadolu via Getty Images
Gempuran itu terjadi setelah kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membantah pernyataan Pakistan—yang memediasi kesepakatan antara AS dan Iran—bahwa gencatan senjata mencakup Lebanon.
Di Washington, sekretaris pers Presiden AS Donald Trump, Karoline Leavitt, juga mengatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Hizbullah, yang belum mengklaim serangan apa pun sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan, mengatakan mereka berhak merespons dan memperingatkan keluarga-keluarga yang mengungsi agar menunggu pengumuman resmi gencatan senjata sebelum mencoba kembali ke rumah.
Pemerintah Lebanon mengatakan akan melanjutkan "upaya untuk memasukkan Lebanon dalam perdamaian regional".
Tujuan serangan Israel di Lebanon
Di lokasi serangan udara terbesar di Beirut, petugas layanan darurat masih mencari para korban yang tertimbun puing-puing bangunan.
Seorang warga bernama Abdelkader Mahfouz sedang mengunjungi saudaranya yang terluka. "Ada banyak bagian tubuh di sini. Hanya orang-orang yang dirugikan. Apa yang harus dilakukan orang-orang. Kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujarnya kepada BBC.
Sumber gambar, Mohammad Abushama / Anadolu via Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Serangan Israel ke Lebanon makin intensif setelah kelompok Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Sebelum kejadian itu, Israel menyerang Lebanon secara berkala meski ada gencatan senjata yang disepakati pada November 2024.
Israel mengklaim telah menewaskan sekitar 1.100 anggota Hizbullah.
Lebih dari 1,2 juta orang telah mengungsi—atau satu dari lima penduduk—kebanyakan dari komunitas Syiah.
Baca juga:
Kini, desa-desa Lebanon di dekat perbatasan Israel telah hancur. Pasukan Israel hendak menciptakan apa yang mereka sebut sebagai zona penyangga keamanan.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa beberapa area di Lebanon mungkin akan tetap diduduki bahkan setelah perang antara AS-Israel dan Iran berakhir. Jika itu terjadi, banyak penduduk Lebanon mungkin tidak pernah bisa kembali.
Pejabat Israel sebelumnya mengindikasikan niat mereka untuk melanjutkan operasi di Lebanon bahkan jika ada kesepakatan dengan Iran.
Namun dalam beberapa hari terakhir, sumber-sumber militer yang dikutip oleh media Israel menyarankan bahwa tentara tidak berniat maju lebih jauh dalam invasinya, dan mengakui bahwa mereka tidak akan mampu melucuti Hizbullah.
Sumber gambar, Adnan Abidi / Reuters
Para pengamat menyatakan keterkejutan atas kemampuan militer Hizbullah, karena selama ini diyakini luas bahwa kelompok tersebut telah sangat melemah dalam perang terakhir mereka.
Kelompok itu sering meluncurkan roket dan drone ke Israel utara, tetapi juga berhadapan dengan pasukan darat Israel di Lebanon selatan.
Namun di Lebanon, Hizbullah menghadapi kritik keras karena banyak pihak menyalahkannya karena telah menyeret Lebanon ke perang yang tidak diinginkan.
Meski demikian, kelompok itu masih menikmati dukungan signifikan di kalangan warga Syiah Lebanon.
Krisis pengungsian yang dipicu oleh perang telah menambah tekanan pada Lebanon yang sudah dilanda krisis. Sekolah-sekolah yang diubah menjadi tempat penampungan telah penuh, dan banyak orang tidur di tenda-tenda darurat di ruang-ruang publik bahkan di dalam mobil.
Setelah kesepakatan gencatan senjata pada 2024, pemerintah Lebanon mengumumkan rencana untuk melucuti Hizbullah, yang dibentuk pada 1980-an sebagai tanggapan atas pendudukan Israel atas Lebanon selama perang saudara Lebanon yang berlangsung 15 tahun.
Namun hingga kini, kelompok itu menolak membahas masa depan senjatanya.
Sumber gambar, Reuters
Presiden Joseph Aoun, mantan kepala angkatan darat, telah menyingkirkan penggunaan kekuatan militer. Dia memperingatkan bahwa hal itu dapat memperdalam perpecahan dan memicu kekerasan.
Menanggapi eskalasi terbaru, pemerintahnya membuat pengumuman bersejarah bahwa mereka terbuka untuk bernegosiasi langsung dengan Israel—kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik.
Namun sejauh ini, Israel mengabaikan tawaran tersebut.
Berita Utama
Majalah
Artikel terpopuler
Konten tidak tersedia