Kisah Emak Farida, konten kreator di pedalaman Kalimantan Timur yang belum terjangkau listrik PLN
Dusun Long Jok di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, belum terjangkau jaringan listrik PLN hingga kini.
Di sana, masyarakat berswadaya dengan mengandalkan genset atau panel surya untuk mendapatkan listrik.
Akses jalanannya pun masih tanah yang kadang becek dan berlumpur saat hujan.
Tapi, dari dusun di pedalaman itu, Farida, seorang perempuan paruh baya, rajin membagikan konten keseharian tentang tempat tinggalnya di media sosial.
Warganet pun bertanya, bagaimana dia bisa melakukan itu?
Jawaban Farida sederhana. Dia menggunakan modem yang disambungkan pada power bank, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik yang dipasang pada batang bambu setinggi 10 meter.
"Alhamdulillah, kalau baterai power bank terisi penuh, koneksi internet bisa bertahan 12 jam," katanya.
'Kreativitas cara kita melawan keterbatasan'
Farida mulai menjadi kreator konten pada akhir Januari 2026.
Di media sosial, dia disapa dengan nama 'Emak Farida'. Kepada "anak-anak daringnya"-—sebutan Farida bagi warganet-—dia membagikan beragam konten tentang dusunnya.
Salah satu kontennya yang paling banyak ditonton dan dibagikan adalah cara mengawetkan ikan tanpa kulkas.
Farida menjelaskan, dia harus menumpang perahu ke desa seberang untuk membeli es batu, lalu menaruh es batu itu dalam sebuah wadah kedap berisi ikan yang sudah dibersihkan. Dengan begitu, ikan segar bisa bertahan semalaman.
"Lumayan, untuk orang kampung yang belum ada kulkas," kata Farida.
Konten tersebut ditonton lebih dari tiga juta orang dan mendapat lebih dari 3.000 komentar.
Sumber gambar, Instagram/emakfarida77
Farida menyebut, melalui konten-kontennya, dia ingin mewakili masyarakat di wilayah pedalaman yang hidup serbaterbatas.
"Bisa mewakili suara masyarakat di sini. Bagaimana kita hidup serba keterbatasan, tidak sama seperti di kota yang fasilitasnya serba ada," katanya.
Terlebih, di kampung Farida, selain belum terjangkau listrik PLN, sekolah dan puskesmas pun belum tersedia.
Warga harus naik perahu ke kampung seberang untuk menyambangi fasilitas itu.
Oleh sebab itu, Farida berharap, apa yang dia lakukan bisa membuat pemerintah lebih memperhatikan warga yang berada di pelosok.
"Agar jalannya pembangunan bisa sampai ke pelosok-pelosok yang membutuhkan," paparnya.
Di sisi lain, Farida juga mengatakan tinggal di desa terpencil dengan fasilitas serbaterbatas, bukan berarti menyerah.
Justru, kemandirian dan kreativitas masyarakat menghadapi keterbatasan bisa menjadi inspirasi bagi warga lainnya.
"Emak ingin menunjukkan bahwa kreativitas adalah cara kita untuk melawan keterbatasan," ujarnya.
Pesannya bagi para anak-anak daringnya adalah: "Syukuri apa yang ada di tangan kita sekarang. Tapi jangan berhenti untuk berusaha lebih baik."
Video produksi: Lesthia Kertopati