Buntut protes lagu kebangsaan dan dicap pengkhianat, kapten tim sepak bola putri Iran batalkan permintaan suaka ke Australia – Apa yang terjadi?

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kapten timnas sepakbola putri Iran, Zahra Ghanbari, salah seorang dari tujuh pemain yang awalnya mengajukan permohonan suaka di Australia.
Waktu membaca: 10 menit

Kapten tim nasional sepak bola putri Iran telah menarik kembali permintaan suaka ke Australia, lapor media resmi Iran.

Dengan demikian, Zahra Ghanbari—sang kapten—menjadi pemain kelima dari rombongan timas Iran yang berubah pikiran.

Zahra Ghanbari akan terbang dari Malaysia untuk kembali ke Iran, demikian diberitakan kantor berita IRNA pada Minggu.

Para pejabat Australia telah mengonfirmasi bahwa ada satu anggota tim yang membatalkan permohonan suaka, namun tidak menyebutkan identitasnya.

Ini terjadi sehari setelah otoritas negara itu melaporkan tiga pemain lain juga menarik klaim mereka.

Para pesepak bola putri Iran sebelumnya mencari perlindungan karena khawatir akan menghadapi konsekuensi setelah mereka memilih diam saat lagu kebangsaan dikumandangkan pada laga pembuka Piala Asia.

Dengan sikap terbaru Zahra Ghanbari ini berarti dari tujuh pemain yang semula menerima tawaran visa kemanusiaan Australia, kini hanya dua orang yang masih bertahan sebagai pembelot.

Aktivis hak asasi manusia menilai para pemain kemungkinan dipaksa untuk membalikkan keputusan mereka melalui ancaman terhadap keluarganya di Iran.

Shiva Amini, eks pemain futsal timnas Iran yang kini hidup di pengasingan, mengatakan dia mendapat informasi bahwa Federasi Sepak Bola Iran bekerja sama dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah "memberikan tekanan berulang dan sistematis terhadap keluarga para pemain di Iran."

"Beberapa pemain memutuskan kembali karena ancaman terhadap keluarga mereka menjadi tak tertahankan dan intimidasi berlangsung tanpa henti," tulisnya di X pada Minggu.

Sumber gambar, ARIF KARTONO / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Para anggota tim sepak bola putri Iran berjalan dengan barang bawaan mereka saat tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur setelah mengikuti turnamen Piala Asia Putri AFC Australia 2026 di Australia, 11 Maret 2026.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Media-media Iran menyambut keputusan terbaru Zahra Ghanbari tersebut.

Kantor berita IRNA menyebut dia telah "kembali ke pelukan tanah air."

Adapun kantor berita semi-resmi Mehr menyebutnya sebagai "keputusan patriotik."

Sehari sebelumnya, tiga anggota lain juga menarik permohonan suaka mereka.

Aktivis diaspora Iran menyebut nama Zahra Soltan Meshkehkar, Mona Hamoudi, dan Zahra Sarbali sebagai tiga pemain tersebut.

Menteri Dalam Negeri Australia mengonfirmasi keputusan itu, seraya menekankan pemerintah telah melakukan segala upaya untuk memberi kesempatan bagi para perempuan tersebut membangun masa depan yang aman di Australia.

"Rakyat Australia patut bangga bahwa di negara kita para perempuan ini merasakan sebuah bangsa yang memberi mereka pilihan nyata dan berinteraksi dengan otoritas yang berusaha membantu," kata Tony Burke dalam pernyataan resmi.

"Walaupun pemerintah Australia dapat memastikan peluang diberikan dan dikomunikasikan, kami tidak bisa menghapus konteks di mana para pemain membuat keputusan yang sangat sulit ini."

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Para pemain putri Iran memberi hormat saat lagu kebangsaan dinyanyikan sebelum laga sepak bola Piala Asia Wanita AFC Australia 2026 antara Iran dan Filipina di Gold Coast, 8 Maret 2026.

Kementerian Olahraga Iran dalam sebuah pernyataan menyebut bahwa "semangat nasional dan patriotisme tim sepak bola putri Iran telah menggagalkan rencana musuh terhadap tim ini," seraya menuding pemerintah Australia "bermain di lapangan Trump."

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan tiga pemain sedang menuju Kuala Lumpur, Malaysia, untuk bergabung kembali dengan skuad dan "kembali ke pelukan hangat keluarga serta tanah air."

Media itu menambahkan bahwa mereka telah menolak "perang psikologis, propaganda luas, dan tawaran menggoda" di Australia.

Menteri Australia Kristy McBain menepis pernyataan tersebut sebagai "propaganda."

"Saya pikir pemerintah kami sangat terbuka kepada rakyat Australia mengenai langkah-langkah yang kami ambil untuk memastikan para perempuan dalam tim sepak bola Iran dan staf pendukung memiliki setiap kesempatan untuk membuat keputusan sendiri," ujarnya kepada ABC News.

Pekan lalu, seorang pemain lebih dulu berubah pikiran, disusul dua pemain dan seorang staf yang meninggalkan Australia pada Sabtu.

Kekhawatiran terhadap tim Iran meningkat setelah mereka menolak menyanyikan lagu kebangsaan pada laga pembuka Piala Asia melawan Korea Selatan pada 2 Maret 2026—yang membuat mereka dicap sebagai "pengkhianat masa perang" di Iran dan memicu seruan hukuman berat.

Tim kemudian menyanyikan lagu kebangsaan dalam dua laga terakhir sebelum tersingkir, yang menurut para pengkritik menunjukkan adanya instruksi dari pejabat pemerintah yang mendampingi mereka selama turnamen.

Para pemain Iran lainnya telah meninggalkan Australia pada 10 Maret, dua hari setelah tersingkir dari Piala Asia Putri.

Drama sepak bola ini berlangsung di tengah ketegangan perang di Timur Tengah setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu serangan balasan Iran di berbagai kawasan.

Apa yang terjadi sebelumnya?

Setelah lima pemain tim nasional sepak bola putri Iran mendapat visa kemanusiaan dari pemerintah Australia, saat ini ada dua orang pemain dan staf yang memilih tetap tinggal di negara itu.

Keduanya—seorang pemain dan satu staf pendukung rombongan timnas putri Iran—telah dipertemukan kembali dengan lima pemain lain yang lebih dulu mendapat visa pada Selasa lalu.

Australia telah mengonfirmasi bahwa dua orang itu telah menerima tawaran untuk tetap tinggal di negara itu dan akan diberikan visa kemanusiaan.

Lima pemain timnas Iran itu telah diberi suaka setelah muncul kekhawatiran atas keselamatan tim, menyusul tindakan mereka tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum laga melawan Korea Selatan, pekan lalu.

Para pemain Iran yang tersisa telah meninggalkan Australia pada Selasa malam waktu setempat — dua hari setelah mereka tersingkir dari Piala Asia.

Kejuaraan sepak bola putri tingkat Asia ini digelar di Australia.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, bersama lima pemain timnas putri Iran yang telah diberikan visa kemanusiaan.

Sebelumnya, Menteri Imigrasi Australia, Tony Burke, menyatakan lima pemain Iran itu telah dipindahkan ke lokasi aman oleh kepolisian Australia.

Ia menambahkan, anggota skuad lainnya juga dipersilakan tetap tinggal di negata tersebut.

Burke menyebut bahwa pada Senin (09/03), pemerintah Australia mendapat kepastian ada lima pemain yang ingin tetap berada di Australia.

Pada hari yang sama, mereka meninggalkan hotel dan dipindahkan oleh aparat polisi ke lokasi yang dianggap aman.

Berbicara pada Selasa (10/03) pagi, Menteri Imigrasi Tony Burke mengungkapkan lima pemain yang menerima visa tersebut adalah Fatemeh Pasandideh, Zahra Ghanbari, Zahra Sarbali, Atefeh Ramazanzadeh, dan Mona Hamoudi.

"Mereka ingin menegaskan bahwa mereka bukan aktivis politik. Mereka adalah atlet yang ingin merasa aman," kata Burke, seraya menambahkan bahwa pembicaraan mengenai hal ini telah berlangsung selama beberapa hari.

Program visa kemanusiaan Australia memberikan perlindungan permanen bagi pengungsi dan mereka yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Pemegang visa berhak tinggal, bekerja, dan menempuh pendidikan di Australia.

Bagaimana kronologinya?

Rangkaian kejadian bermula ketika para pemain timnas sepak bola putri Iran diam seribu bahasa dan tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum laga melawan Korea Selatan pada pekan lalu.

Aksi tersebut memicu kritik keras di Iran.

Seorang komentator bahkan menuduh timnas putri Iran sebagai "pengkhianat di masa perang" dan mendesak agar mereka dijatuhi hukuman berat.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Tim nasional sepak bola perempuan Iran tidak menyanyikan lagu kebangsaan Republik Islam sebelum laga pertama mereka di Piala Asia.

Deniz Toupchi, salah satu suporter yang mendukung timnas Iran, mengatakan keputusan awal untuk tetap diam saat lagu kebangsaan dimainkan mengejutkan banyak pihak.

"Kami tidak menyangka, karena kami tahu itu langkah besar," ujarnya. "Kami hanya merasa bangga pada mereka."

Toupchi termasuk ratusan anggota komunitas Iran di Australia yang memenuhi tribun penonton pada Minggu.

Saat lagu kebangsaan Iran diperdengarkan, mereka menanggapinya dengan sorakan dan ejekan, menegaskan penolakan terhadap simbol negara yang mereka anggap tidak mewakili.

Di pertengahan babak pertama, banyak suporter membentangkan bendera Singa dan Matahari—simbol negara sebelum revolusi Islam di Iran.

Bendera itu diselundupkan ke dalam stadion, walaupun aturan resmi hanya memperbolehkan bendera Iran yang resmi berlaku saat ini.

Meski dukungan penonton begitu antusias, interaksi dengan para pemain di lapangan nyaris tak terlihat.

Satu pengecualian terjadi ketika seorang pemain yang mendapat perawatan medis di pinggir lapangan, melemparkan ciuman ke arah tribun, dan disambut sorakan meriah.

"Mereka tak bisa berbicara bebas karena berada dalam ancaman," ujar Naz Safavi, penonton yang selalu hadir dalam tiga laga tim Iran.

"Kami ada di sini untuk menunjukkan dukungan penuh kepada mereka."

Sumber gambar, Montanna Bailey/Getty Images

Keterangan gambar, Hayley Raso, pemain timnas putri Australia, berebut bola dengan pemain Iran, Mona Hamoudi dalam laga Piala Asia 2026, 5 Maret 2026 di Gold Coast, Australia.

Pada Minggu malam, ratusan pendukung mengepung bus tim putri Iran saat meninggalkan stadion di Gold Coast, sambil meneriakkan "selamatkan putri-putri kami".

Sehari kemudian, BBC menyaksikan suasana dramatis di hotel bintang lima tempat tim menginap.

Beberapa pemain terlihat meninggalkan lobi bersama-sama setelah berbicara dengan sejumlah aktivis.

Tak lama berselang, kelompok kedua yang terdiri atas penerjemah dan pelatih kepala masuk dengan wajah panik, bergegas melewati hotel sebelum kembali ke kamar.

Seorang anggota keluarga salah seorang pemain, yang berbicara tanpa menyebut nama kepada ABC, mengatakan para pemain kini dilindungi polisi dan berniat mengajukan suaka.

"Saya ingin mencium tangan semua orang yang telah membantu," ujarnya.

Dalam laga kedua melawan Australia dan pertandingan terakhir melawan Filipina, tim Iran terlihat menyanyikan dan memberi hormat saat lagu kebangsaan dikumandangkan.

Hal itu memunculkan dugaan bahwa mereka dipaksa oleh pejabat pemerintah Iran yang turut mendampingi rombongan.

Pada Senin, pengamanan di resor tempat tim menginap diperketat.

Polisi federal berjaga di depan resepsionis, sementara keberadaan para pemain tak terlihat, meski beberapa anggota delegasi Iran tampak duduk di area umum hotel.

Belum jelas kapan para pemain lainnya akan meninggalkan hotel dan ke mana mereka akan berpindah—apakah ke lokasi akomodasi lainnya, kembali ke Iran, atau menuju negara ketiga.

"Pemerintah Australia seharusnya mengambil peran kepemimpinan moral di sini," kata Zaki Haidari, pegiat hak pengungsi dari Amnesty International Australia.

"Ini momen krusial, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, saat kita bicara tentang kebebasan, kesetaraan, dan diskriminasi berbasis gender."

Sentimen serupa juga terdengar dari para pendukung di stadion pada Minggu malam.

"Kami mendorong mereka, berharap mereka tetap di sini, tapi pada saat yang sama kami tahu nyawa keluarga mereka di Iran terancam," ujar Melika Jahanian.

"Apa pun keputusan yang mereka ambil akan sangat berat, jadi mereka perlu didukung oleh pemerintah Australia."

Sumber gambar, Patrick HAMILTON / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Tiga pemain putri sepak bola Iran menunggu kepastian di lobi hotel.

Pada Senin, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menggunakan platform Truth Social, mendesak pemerintah Australia agar memberi suaka kepada para pemain.

"AS akan menerima mereka jika kalian tidak [memberi suaka]," tulisnya.

Sekitar satu jam kemudian, Trump kembali mengunggah bahwa dia telah berbicara dengan PM Albanese dan menyebut "lima pemain sudah ditangani, sisanya sedang dalam proses."

Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese kemudian mengonfirmasi bahwa lima pemain timnas putri Iran telah diberikan visa kemanusiaan.

Menteri Imigrasi Australia Tony Burke mengatakan dia bertemu langsung dengan para pemain di lokasi aman sebelum menandatangani persetujuan visa kemanusiaan mereka.

Proses itu rampung sekitar pukul 01.30 waktu setempat, Selasa.

"Kepada anggota tim lainnya, kesempatan yang sama terbuka. Australia telah menerima tim sepak bola putri Iran dengan hangat. Mereka sangat populer di sini," ujar Burke.

Namun, dia menekankan bahwa pemerintah memahami dilema berat yang dihadapi para pemain terkait keputusan yang mereka ambil.

Khawatir akan keselamatan para pemain Iran

Craig Foster, mantan kapten timnas putra Australia sekaligus pegiat hak asasi manusia, menilai para aktivis memiliki "kekhawatiran yang sangat wajar dan serius" atas keselamatan para pemain Iran.

Kepada BBC, Foster menegaskan: "Setiap tim yang tampil dalam turnamen resmi FIFA, baik di bawah Konfederasi Sepak Bola Asia maupun konfederasi lain, harus memiliki hak atas keselamatan serta dukungan eksternal untuk menyampaikan kekhawatiran mereka, baik sekarang maupun di masa depan."

Sumber gambar, Patrick HAMILTON / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Komunitas Iran di Australia memblokir jalan bus yang membawa anggota tim sepak bola putri Iran,10 Maret 2026.

Dengan meningkatnya kekhawatiran atas perlakuan yang akan diterima para pemain jika kembali ke Iran, muncul dorongan agar mereka mencari suaka di Australia, apabila menghendaki.

Namun, belum jelas apa konsekuensi yang mungkin menimpa keluarga mereka di tanah air.

Craig Foster, mantan kapten timnas putra Australia yang juga terlibat dalam evakuasi tim putri Afghanistan dari Taliban pada 2021, menuturkan:

"Mereka telah 'disandera' oleh manajemen tim di hotel dan tidak diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan komunitas luar, teman, keluarga, atau jaringan pendukung, termasuk pengacara."

Menurut Foster, sebagian pemain mungkin memiliki kekhawatiran, sebagian lainnya tidak.

"Yang pasti, mayoritas punya keluarga di rumah, beberapa bahkan punya anak. Jadi meski ditawari hak tinggal di Australia, jika merasa tidak aman, banyak yang mungkin menolak kesempatan itu. Yang terpenting adalah tawaran itu harus ada," ujarnya.

Dalam konferensi pers usai laga di hari Minggu, manajer tim Marziyeh Jafari menyatakan:

"Kami ingin segera kembali. Secara pribadi, saya ingin segera kembali ke negara saya dan bersama keluarga serta rekan senegara."

Saat bus tim meninggalkan stadion pada Minggu malam, sejumlah spanduk bertuliskan "Stay Safe in Australia. Talk to Police" dan "If your home is not safe – mine is" terlihat di kerumunan.

Beberapa pendukung bahkan nekat menghindari polisi dan mencoba menghalangi laju kendaraan di jalan sempit sekitar stadion.

Para pemain duduk di dalam bus, menyaksikan drama di luar yang berlangsung di tengah hujan. Ada yang tersenyum dan melambaikan tangan, namun juga terlihat ekspresi muram. Setidaknya satu penumpang menutup tirai jendela bus.